ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Baca Juga: Mulai 5 Juni, pekerja bergaji di bawah Rp 3,5 juta akan terima bantuan subsidi upah

Mengapa kita harus berlomba dalam rasa?

Mungkin ada yang bertanya: bukankah makanan cukup dimasak dan dinikmati? Untuk apa diperlombakan? Jawabannya ada dalam prinsip sederhana: semangat kompetisi memunculkan kualitas terbaik.

Dalam dunia kuliner, ketika seseorang tahu karyanya akan dinilai oleh publik atau juri, ia akan mengasah teknik lebih rapi, memperhalus rasa lebih dalam, dan menyajikan dengan estetika yang lebih puitis.

Kompetisi juga memberikan validasi sosial sebuah pengakuan dari komunitas bahwa hasil keringat dan intuisi seseorang layak diapresiasi.

Ini penting terutama bagi pelaku kuliner akar rumput yang selama ini hanya berkarya di balik dapur rumah.

Ketika hasil kreasinya tampil di panggung dan mendapat tepuk tangan, harga dirinya naik. Ini bukan sekadar hadiah uang, tapi hadiah psikologis dan budaya.

Baca Juga: Ketua DPR desak pemerintah bubarkan ormas pengganggu ketertiban

Dari lomba masak RT ke ajang kuliner nasional

Lomba memasak sebenarnya bukan hal asing bagi masyarakat kita. Dari tingkat RT, lomba masak sering digelar saat HUT RI atau acara PKK.

Tapi sayangnya, acara ini seringkali berhenti pada level seremonial, kurang terhubung ke rantai yang lebih panjang: edukasi, inkubasi, branding, dan distribusi.

Bayangkan jika lomba masak skala kecil ini bisa disinergikan ke dalam sistem kompetisi berjenjang, seperti liga makanan. Mulai dari Lomba Makanan Tradisional Tingkat Kelurahan, lalu naik ke Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, hingga nasional.

Setiap pemenang membawa serta keunikan lokal, dan pada akhirnya kita bisa memiliki 'Piala Kuliner Nusantara', ajang nasional bergengsi yang membanggakan para chef lokal dari dapur rakyat.

Contohnya, Festival Aci di Garut bukan hanya ajang pamer cireng dan cilok. Tapi juga membuka kategori kompetisi: Best Texture, Most Creative Plating, Best Fusion Aci, hingga Storytelling Terbaik di Balik Makanan.

Baca Juga: Polisi amankan 17 orang terkait penguasaan lahan BMKG di Tangsel

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X