ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Dan siapa pun yang ingin mencicipi rasa itu, harus datang dengan hati terbuka—karena di sinilah, rasa akan menyambutmu dengan senyuman.

Baca Juga: Fadli Zon tegaskan pemasangan stairlift di Candi Borobudur sesuai aturan, tak rusak struktur bangunan

Warisan kuliner dalam lanskap vulkanik

Tanah Priangan bukan sekadar ruang geografis, ia adalah lanskap rasa yang dibentuk oleh geologi, iklim, dan sejarah panjang interaksi manusia dengan alam.

Jika kita menelusuri sejarahnya, tanah subur yang kini menjadi jantung kehidupan kuliner Sunda ini lahir dari serangkaian letusan gunung api: Gunung Purba, Gunung Sunda, Gunung Tangkuban Parahu, yang menyisakan kaldera besar, yang 3500 tahun silam baru mengering, dan itulah Cekungan Bandung.

Apa yang hari ini kita sebut sebagai 'kekayaan gastronomi Sunda' sesungguhnya adalah hasil sublimasi dari tragedi geologi yang berubah menjadi berkah kuliner.

Vulkanisme: Dapur alam yang mencetak rasa

Dalam ilmu geologi kuliner, ya, itu istilah tak resmi namun semakin populer di kalangan ahli gastronomi, aktivitas vulkanik sering dianggap sebagai mother kitchen.

Baca Juga: Beckham Putra ceritakan pengalaman lawan pemain China, jadi modal jelang laga Timnas

Vulkanisme menyediakan elemen-elemen penting bagi kehidupan: tanah vulkanik yang kaya mineral, sistem drainase alami, dan suhu mikroklimat yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis tanaman pangan.

Di Tanah Pasundan, kita bisa merasakan dampaknya secara langsung: ubi dan singkong tumbuh besar, daun-daunan seperti kemangi, genjer, atau singkil menyebar liar, dan sayuran seperti kol, tomat, serta wortel memiliki cita rasa lebih renyah dan manis dibanding yang tumbuh di dataran rendah.

Dalam konsep terroir, yang biasanya digunakan dalam dunia anggur untuk menjelaskan bagaimana karakter tanah, iklim, dan topografi membentuk rasa dari hasil panen, Pasundan memiliki terroir khasnya sendiri.

Singkong Lembang, misalnya, memiliki kadar air dan tekstur yang berbeda dibandingkan singkong dari Garut.

Baca Juga: Pramono Anung dorong UU pelestarian ondel-ondel, tak Ingin lagi digunakan untuk ngamen

Ini bukan semata karena varietas, tapi karena perbedaan ketinggian, suhu malam hari, dan kelembapan tanah. Itulah kenapa tape dari Lembang punya kelembutan yang tak bisa ditiru di tempat lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X