ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Banyak anak muda kini lebih akrab dengan burger dan sushi dibandingkan karedok atau tutug oncom.

Bahkan beberapa makanan tradisional seperti gurandil, ketuk lindri, dan jalabria mulai menghilang dari radar kuliner masyarakat kota.

Dalam konteks ini, makanan tradisional tidak hanya butuh dilestarikan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk baru yang menarik.

Ini bukan berarti menghilangkan identitas aslinya, tetapi menyesuaikannya dengan selera dan gaya hidup masa kini, apa yang disebut sebagai kuliner adaptif. Contohnya, kue balok bisa disajikan dengan isian cokelat leleh dan topping matcha, tanpa menghilangkan bentuk dan teknik dasarnya.

Baca Juga: Puan Maharani soroti usulan pensiun ASN hingga 70 tahun: Jangan bebani negara

Gastronomi dan rasa bangsa

Lebih dari sekadar identitas lokal, gastronomi Sunda juga bisa menjadi bagian dari identitas nasional.

Di tengah pencarian jati diri bangsa, makanan bisa menjadi cara paling lembut untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.

Kita bisa belajar dari negara seperti Jepang, yang memposisikan ramen, sushi, dan matcha sebagai duta budaya yang efektif. Atau Italia dengan pasta dan espresso-nya.

Bayangkan jika cilok, comro, atau peuyeum bisa hadir di restoran Asia fusion di Eropa atau kafe hipster di Australia dengan tetap membawa nilai autentik dan kisah di baliknya. Maka, makanan Sunda tidak hanya menjadi pelengkap, tapi juga pembawa pesan.

Dari rasa ke makna

Gastronomi Sunda adalah narasi kolektif yang mengalir dari dapur ke meja makan, dari ibu ke anak, dari kampung ke kota.

Baca Juga: PDIP laporkan Menteri Koperasi Budi Arie atas dugaan pencemaran nama baik

Ia adalah cara masyarakat mengenang masa lalu, menjalani hari ini, dan merancang masa depan. Dalam setiap rempah yang ditumbuk, dalam setiap sambal yang diulek, ada kisah dan nilai yang terus hidup.

Karena rasa bukan hanya untuk dikenang—tetapi untuk diperjuangkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X