ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Lebih jauh lagi, festival bisa menciptakan jalur wisata kuliner. Rute 'Jalur Aci Sunda' bisa menjadi destinasi wisata tematik: dimulai dari Subang, Garut, Tasikmalaya, dan berakhir di Bandung dengan setiap kota menyajikan makanan khas berbasis aci.

Ini adalah bentuk experiential tourism yang kini banyak diminati wisatawan generasi milenial dan Gen Z.

Peran komunitas dan pentahelix gastronomi

Agar festival kuliner tidak hanya menjadi helaran sesaat, perlu dukungan dari unsur pentahelix: pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media.

Baca Juga: Suhu saat wukuf diprediksi tembus 50 derajat, jemaah diminta berteduh di tenda

Komunitas bisa mengorganisasi dan merancang konten lokal, akademisi memberi konteks budaya dan sejarah, pengusaha mendukung distribusi dan packaging, media mengangkat narasi, dan pemerintah memberi kebijakan dan insentif.

Koordinasi antarpihak ini menjadi vital untuk memastikan bahwa festival kuliner bukan hanya pesta makan, tapi juga platform pemberdayaan.

Contoh baik bisa diambil dari Ubud Food Festival di Bali yang sukses menyatukan narasi kuliner, industri, dan budaya secara bersamaan.

Di Jawa Barat, potensi festival tematik sangat besar:

• Festival Sambal Sunda
• Festival Urab Nusantara
• Pasar Rakyat Oncom & Fermentasi Lokal
• Bulan Peuyeum Nasional

Baca Juga: 95 Persen jemaah haji Indonesia di tanah suci sudah terima kartu nusuk, pemerintah genjot distribusi jelang puncak haji

Bayangkan jika semua ini dijalankan secara terintegrasi, maka Tanah Pasundan bisa menjadi salah satu episentrum gastronomi di Asia Tenggara.

Merayakan dengan etika dan estetika

Festival kuliner juga bisa menjadi sarana pendidikan rasa dan etika makan. Banyak anak-anak muda yang tidak tahu bahwa urab harus diaduk sebelum dimakan, atau bahwa nasi tutug oncom paling nikmat disantap dengan tangan dan sambal leunca.

Di festival, kita bisa mendidik tanpa menggurui melalui demonstrasi masak, cerita rakyat, atau konten kreatif seperti lomba video resep dan podcast cerita kuliner.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X