ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Di mana makanan bukan hanya soal gizi atau estetika, melainkan tentang menyentuh sisi manusiawi terdalam melalui interaksi yang hangat.

Di balik setiap rasa, ada cerita

Tanah Pasundan diberkahi lanskap geografis yang dramatis dan menawan. Dataran tinggi yang subur, iklim sejuk, dan kekayaan sumber daya alam menjadi rahim bagi ragam bahan pangan tropis berkualitas tinggi.

Baca Juga: 1.183 Jamaah haji asal Subang siap berangkat, Wakil Bupati lepas kloter pertama

Tapi lebih dari itu, kombinasi antara alam dan budaya telah membentuk tradisi kuliner yang kaya, kompleks, dan sekaligus rendah hati.

Gastronomi Sunda tidak mengedepankan kemewahan bahan baku. Ia lebih sering merayakan hasil bumi yang sederhana: beras, singkong, oncom, aci (tepung tapioka), daun-daunan, sayur-mayur, dan rempah lokal.

Namun, dari kesederhanaan itu lahirlah rasa-rasa agung yang merangkum pengalaman generasi demi generasi. Comro, cireng, karedok, urab, ulen, leupeut, atau seblak, mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.

Tapi bagi masyarakat Pasundan, itu adalah jejak ingatan, warisan rasa, dan bentuk syukur atas alam yang murah hati.

Baca Juga: IFG dukung ketenteraman masyarakat saat long weekend lewat layanan perlindungan perjalanan

Setiap makanan memiliki narasi mikro yang tertanam dalam proses pembuatannya. Cara mencacah daun kemangi untuk urab, cara membakar oncom di atas bara hingga mengeluarkan aroma khas, atau bagaimana bumbu sambal selalu diulek, bukan diblender—semua itu bukan soal teknik semata, tetapi tentang menghargai proses.

Dalam terminologi kuliner, inilah yang disebut slow food, gerakan yang menekankan pentingnya memasak dan makan dengan kesadaran penuh, dengan rasa hormat terhadap bahan, budaya, dan komunitas.

Ketika alam menjadi dapur

Alam Tanah Priangan bukan hanya latar belakang; ia adalah dapur besar tempat berbagai bahan pangan tumbuh dan berkembang.

Kawasan pegunungan yang tercipta dari letusan Gunung Purba 150-an ribu tahun silam, kini menjadi kebun alami bagi warga.

Baca Juga: Ramai dugaan pelat nomor mobil penabrak mahasiswa UGM diganti, polisi: Ada motif mengaburkan barang bukti

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X