Melestarikan makanan Sunda berarti menjaga jati diri kita sendiri. Karena saat kita lupa pada apa yang pernah membuat kita kenyang dengan rasa dan makna, kita juga sedang kehilangan sebagian dari siapa diri kita sebenarnya.
Festival kuliner: Menciptakan momentum, menumbuhkan rasa bangga
Di tengah gempuran budaya populer dan arus globalisasi makanan cepat saji, satu pertanyaan muncul dengan mendesak: bagaimana kita mempertahankan dan merayakan kekayaan gastronomi lokal kita sendiri? Jawabannya, salah satunya, adalah melalui festival kuliner.
Baca Juga: Eks Dirut Taspen diduga beli 11 apartemen mewah dari uang korupsi investasi fiktif
Bukan sekadar pesta makan-makan atau bazar makanan biasa, festival kuliner adalah panggung yang strategis, sebuah arena untuk menghidupkan rasa, menyalakan kreativitas, dan membangkitkan kebanggaan.
Di Tanah Priangan, festival kuliner belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai alat pembentuk identitas dan penggerak ekonomi.
Padahal, jika digarap serius dan berkelanjutan, ia bisa menjadi momentum penting dalam membangun rasa percaya diri kolektif terhadap warisan kuliner Sunda.
Panggung rasa dan Identitas
Festival kuliner adalah medium yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu meja besar: produsen bahan pangan, ibu-ibu juru masak, chef muda, UMKM, komunitas kreatif, hingga pemerintah.
Baca Juga: Operasi tiga pilar, Polsek Pagaden sita 101 botol miras berbagai merek
Ketika semua unsur ini duduk bersama, terjadi pertukaran yang tidak ternilai: resep lama diinterpretasi ulang, bahan lokal mendapat nilai jual baru, dan rasa-rasa lama hidup kembali dalam bentuk baru yang segar dan menggoda.
Kita bisa bayangkan sebuah Festival Aci Nasional yang diselenggarakan di Cekungan Bandung, mengundang masyarakat dari berbagai penjuru Jawa Barat untuk menciptakan makanan paling inovatif berbahan dasar aci.
Peserta dari Tasik membawa aci gulung isi tuna asap, dari Garut datang brownies aci pisang karamel, dan dari Subang muncul aci sushi leunca. Semua tampil di satu panggung besar rasa.
Momentum semacam ini tidak hanya menciptakan gelombang kreatif, tetapi juga menumbuhkan gastronomic pride kebanggaan terhadap warisan kuliner sendiri. Karena kita tahu, rasa tidak hanya untuk disantap, tapi juga untuk dirayakan.
Baca Juga: Rosan Roeslani buka suara soal isu Garuda tambah 50 pesawat Boeing
Artikel Terkait
Makanan kesukaan orang Bandung, kalian harus coba batagor jika ke kota Sunda ini!
Berburu kuliner, mengenal ragam kelezatan makanan masyarakat sunda
Gina Octavia Puspitasari, atlet remaja muaythai dan penari Sanggar Tari Soca Niskala Sunda Subang yang berprestasi ke tingkat nasional
Susi Pudjiastuti diangkat jadi penasihat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ini tugasnya
Ketua Komisi Informasi Jawa Barat dorong implementasi UU keterbukaan informasi publik secara optimal
Kang Rey tegaskan sinergi pembangunan Subang dan Jawa Barat dalam Musrenbang di Cirebon
Gubernur Dedi Mulyadi tegaskan pentingnya ketertiban umum sebagai fondasi pembangunan Jawa Barat