ESAI: SLB Negeri Jombang, puisi mengajarkan arti menjadi manusia seutuhnya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Februari 2026 | 02:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Di sebuah ruang kelas SLB Negeri Jombang, pada Selasa pagi 10 Februari 2026, puisi tidak lagi sekadar teks sastra. Ia menjelma peristiwa kemanusiaan.

Ujian praktik membaca puisi dan menulis puisi di sana bukan hanya instrumen evaluasi kurikulum, melainkan penanda bahwa pendidikan, pada bentuknya yang paling hakiki, adalah usaha memulihkan martabat manusia.

Saya menyaksikan bagaimana karya sastra yang saya tulis menemukan hidupnya sendiri, bukan di panggung-panggung megah, tetapi di suara Raissa Evannia Khairunnisa yang membacakan 'Musim Yang Selalu Kembali', dan di ketukan sunyi Yongki Drajat Utomo yang menulis puisi melalui teknologi suara.

Baca Juga: Kades Cibogo dan 4 perangkat desa ditahan, tanah negara dijual ke PT Vinfast rugikan Rp 2,4 miliar

Dalam wacana pendidikan arus utama, murid SLB sering direduksi menjadi angka, kategori, atau keterbatasan. Padahal, justru di ruang-ruang inilah makna belajar tampil paling jujur.

Ketika Raissa, murid tunagrahita dan tunadaksa, membacakan puisi tentang guru, yang terjadi bukan sekadar pelafalan bait.

Ia sedang menegaskan bahwa bahasa adalah milik semua manusia, bukan hak istimewa mereka yang dianggap 'normal'.

Pernyataan guru pembimbing bahwa pembacaan puisi melatih literasi melalui pengulangan mengingatkan kita bahwa belajar bukan soal kecepatan, melainkan keberlanjutan.

Baca Juga: Pasca 9 warga tewas akibat miras oplosan, Polres Subang intensifkan razia minuman keras

Dalam pengulangan itu, tumbuh keberanian, dan dari keberanian lahir makna.

Kepala SLB Negeri Jombang menafsirkan puisi tersebut sebagai kisah tentang kesabaran guru dan siklus kehidupan yang tak selalu berada di atas.

Tafsir ini penting, sebab ia menunjukkan bahwa sastra bekerja efektif justru ketika ia dekat dengan pengalaman konkret.

Kata-kata yang sederhana, yang sering diremehkan dalam estetika sastra elitis, ternyata justru menjadi jembatan pemahaman bagi murid.

Di sini saya belajar bahwa kejelasan bukan musuh kedalaman. Puisi tidak harus gelap untuk menjadi bermakna; ia cukup jujur.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X