ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 1 Februari 2026 | 18:14 WIB
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya

Sabtu malam, 31 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, di Art Tangsen Wahyudi, Kampung Baru, Saradan, Kabupaten Madiun, saya hadir di sebuah pertemuan forum diskusi karya yang bertajuk ‘Sirisihin’, sebuah plesetan dari kata sarasehan, seolah ingin mengatakan sejak awal bahwa keseriusan tidak selalu lahir dari kekakuan interaksi, dan kedalaman tidak selalu muncul dari forum yang terlalu formal.

Justru dari kelonggaran, dari percakapan yang hangat dan jujur, substansi sering menemukan jalannya.

Acara yang diinisiasi oleh Asosiasi Seniman Madiun ini lahir dari kegelisahan nyata, minimnya intensitas kegiatan pembahasan topik karya seni di Madiun.

Baca Juga: Perkara dihentikan, Hogi Minaya resmi bebas usai bela istri dari penjambret

Bukan sekadar pameran yang datang dan pergi, tetapi diskusi yang betul-betul menguliti gagasan, proses, dan makna di balik karya.

Padahal, sejarah peradaban menunjukkan bahwa seni yang hidup selalu ditopang oleh tradisi perbincangan. Seni yang jarang dibahas, pelan-pelan akan menjadi sunyi, dan kesunyian dalam seni bukanlah kontemplasi, melainkan pengabaian.

Dalam Sirisihin, sengaja mempertemukan para seniman dari Madiun Utara dengan para seniman dan budayawan dari Madiun Kota atau wilayah tengah.

Dari Madiun Utara yang tergabung dalam Asosiasi Seniman Madiun diantaranya Wahyudi, Hadi Sisanto, Samsun, Sujiatno, dan Johan Wahyudi. Serta Titus Tri Wibowo, Nugroho Budi, dan Apung Purwanto dari Jaringan Kebudayaan Madiun.

Baca Juga: Viral longsor di bantaran Kali Bekasi Tambun Utara, enam rumah warga terdampak

Mereka selama ini bergerak di lingkaran masing-masing, jarang duduk bersama dalam forum yang setara dan cair.

Sedangkan para seniman Madiun Selatan belum turut hadir malam ini, namun komunikasi para seniman Madiun Utara dan Selatan selama ini sudah terjalin cukup baik.

Ada yang menyebut kerja-kerja semacam ini sebagai kerja kurator seni. Saya sendiri merasa istilah itu masih terlalu jauh untuk saya terima.

Yang saya lakukan berangkat dari kegelisahan sederhana, mengapa membahas karya seni belum menjadi kebiasaan di Madiun Raya, baik kota maupun kabupaten, utara maupun selatan.

Baca Juga: Onad akui alami sindrom peter pan usai rehabilitasi narkoba, sulit move on dari usia 19 tahun

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X