Di tengah dinamika sosial-politik nasional yang terus berubah, kampus tidak lagi menjadi ruang steril dari pertarungan ide dan pengaruh.
Justru, di balik dinding ruang kuliah dan kegiatan kemahasiswaan, kini tumbuh fenomena baru yang menarik sekaligus mengkhawatirkan, infiltrasi ideologi yang berjalan senyap, tapi sistematis.
Fenomena ini tidak selalu muncul dalam bentuk gerakan besar atau simbol terang, melainkan hadir dalam keseharian mahasiswa, dalam pergaulan, komunitas seni, diskusi ringan, hingga aktivitas digital yang tampak 'biasa saja'.
Di lingkungan Universitas Subang, gejala tersebut mulai tampak dalam bentuk yang halus, bergesernya minat mahasiswa dari gerakan berbasis ideologi menuju ekspresi yang lebih bebas dan spontan.
Banyak mahasiswa merasa bahwa pembahasan tentang ideologi sudah tidak relevan dengan realitas kampus.
Organisasi berbasis ideologi dipandang terlalu kaku, terlalu 'berwarna', atau bahkan dicurigai memiliki kepentingan tertentu.
Akibatnya, ruang-ruang kaderisasi dan penguatan nilai justru tergeser oleh tren apolitis yang membungkus diri dalam bahasa kebebasan.
Baca Juga: ESAI: Sidang umum PBB dan diskursus pertaruhan kemanusiaan universal
Namun di sinilah letak bahaya yang sering tidak disadari. Ketika mahasiswa mulai menjauh dari ideologi yang jelas, mereka justru menjadi lebih rentan terhadap pengaruh ideologis lain yang datang tanpa disadari.
Infiltrasi tidak lagi hadir sebagai propaganda yang frontal, tetapi sebagai gaya hidup, estetika, dan narasi sosial yang terasa netral.
Dalam konteks inilah muncul istilah yang bisa disebut sebagai ter-isme tanpa sadar, yakni situasi di mana seseorang telah menginternalisasi nilai dan arah berpikir tertentu tanpa pernah menyadarinya.
Kondisi seperti ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam ekosistem sosial yang lebih luas, termasuk di Kabupaten Subang.
Artikel Terkait
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Refleksikan kegelisahan perempuan, Mahasiswa GMNI gelar aksi pembagian mawar, teaterikal dan musikalisasi puisi
Peringati Dies Natalis ke-70, GMNI Subang gelar Bukber Manis dan bagi-bagi tajil kepada para pengendara yang sedang ngabuburit
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
GMNI Subang nilai kebijakan pemerintah serampangan, rakyat menunggu di persimpangan
ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme
GMNI Subang tegaskan masa depan pertanian tak boleh tersisih oleh proyek industrialisasi