ESAI: Infiltrasi ideologi dan krisis kesadaran mahasiswa di Subang

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 9 Oktober 2025 | 17:49 WIB
Rizky Ababil Sugiarto, Presiden Mahasiswa UNSUB
Rizky Ababil Sugiarto, Presiden Mahasiswa UNSUB

Di tengah dinamika sosial-politik nasional yang terus berubah, kampus tidak lagi menjadi ruang steril dari pertarungan ide dan pengaruh.

Justru, di balik dinding ruang kuliah dan kegiatan kemahasiswaan, kini tumbuh fenomena baru yang menarik sekaligus mengkhawatirkan, infiltrasi ideologi yang berjalan senyap, tapi sistematis.

Fenomena ini tidak selalu muncul dalam bentuk gerakan besar atau simbol terang, melainkan hadir dalam keseharian mahasiswa, dalam pergaulan, komunitas seni, diskusi ringan, hingga aktivitas digital yang tampak 'biasa saja'.

Baca Juga: Kecelakaan maut truk pengangkut galon AQUA di Cijambe Subang, 3 tewas dan 7 luka-luka: Terekam CCTV, diduga rem blong

Di lingkungan Universitas Subang, gejala tersebut mulai tampak dalam bentuk yang halus, bergesernya minat mahasiswa dari gerakan berbasis ideologi menuju ekspresi yang lebih bebas dan spontan.

Banyak mahasiswa merasa bahwa pembahasan tentang ideologi sudah tidak relevan dengan realitas kampus.

Organisasi berbasis ideologi dipandang terlalu kaku, terlalu 'berwarna', atau bahkan dicurigai memiliki kepentingan tertentu.

Akibatnya, ruang-ruang kaderisasi dan penguatan nilai justru tergeser oleh tren apolitis yang membungkus diri dalam bahasa kebebasan.

Baca Juga: ESAI: Sidang umum PBB dan diskursus pertaruhan kemanusiaan universal

Namun di sinilah letak bahaya yang sering tidak disadari. Ketika mahasiswa mulai menjauh dari ideologi yang jelas, mereka justru menjadi lebih rentan terhadap pengaruh ideologis lain yang datang tanpa disadari.

Infiltrasi tidak lagi hadir sebagai propaganda yang frontal, tetapi sebagai gaya hidup, estetika, dan narasi sosial yang terasa netral.

Dalam konteks inilah muncul istilah yang bisa disebut sebagai ter-isme tanpa sadar, yakni situasi di mana seseorang telah menginternalisasi nilai dan arah berpikir tertentu tanpa pernah menyadarinya.

Kondisi seperti ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam ekosistem sosial yang lebih luas, termasuk di Kabupaten Subang.

Baca Juga: Garuda belum jatuh: Dua skenario Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026, Kluivert Cs diminta muhasabah diri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X