Ada hal-hal yang tak sanggup ditampung oleh ingatan, namun terlalu berharga untuk dibiarkan menguap begitu saja. Di situlah menulis menemukan maknanya.
Ia bukan sekadar aktivitas merangkai kata, melainkan cara manusia menyelamatkan dirinya sendiri dari lupa. Dalam setiap kalimat, kita seperti menambatkan waktu agar tidak sepenuhnya pergi.
Kita hidup dalam arus waktu yang tak pernah berhenti. Hari-hari datang dan pergi, membawa peristiwa, perasaan, dan pemikiran yang sering kali berlalu tanpa sempat kita pahami sepenuhnya.
Banyak hal terjadi begitu cepat hingga kita hanya menjadi pelintas dalam hidup sendiri. Menulis adalah cara kita memperlambat waktu.
Baca Juga: Kasus WO Marwah: 58 Catin jadi korban, kerugian Rp2,65 miliar
Dengan menulis, kita berhenti sejenak, menatap ulang apa yang telah terjadi, dan memberi makna pada setiap serpih pengalaman yang sebelumnya terasa samar.
Menulis juga merupakan bentuk keberanian. Tidak semua orang sanggup jujur pada dirinya sendiri, apalagi menuangkannya ke dalam kata-kata.
Ada rasa takut untuk terlihat rapuh, ada keraguan untuk mengakui luka. Namun ketika kita menulis, kita sedang membuka ruang dialog yang paling intim, percakapan antara diri dan diri.
Di sana, kita berhadapan dengan luka, harapan, ketakutan, dan impian yang mungkin selama ini kita sembunyikan, lalu perlahan belajar menerimanya.
Baca Juga: Beredar video diduga Prihantini klarifikasi dan minta maaf, akui catut nama teman sendiri di riset
Lebih dari itu, menulis adalah cara manusia untuk tetap hidup, bahkan setelah ia tiada. Kata-kata yang ditulis hari ini bisa melintasi waktu, dibaca oleh generasi yang bahkan belum lahir.
Dalam setiap tulisan, ada jejak pemikiran, perasaan, dan pandangan hidup yang menjadi saksi bahwa kita pernah ada, pernah merasa, dan pernah berpikir.
'Tulisan menjadikan keberadaan manusia tidak sepenuhnya hilang ditelan waktu.'
Di dunia yang semakin bising oleh suara dan cepat oleh perubahan, menulis menjadi ruang sunyi yang menenangkan.
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa