ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Masa depan aci, oncom, dan singkong

Tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan identitas gastronomi ini di tengah globalisasi.

Banyak anak muda Sunda yang lebih kenal chicken wings daripada urab daun singkong. Inilah mengapa edukasi rasa menjadi sangat penting.

Baca Juga: Tertangkap basah curi motor di Pasar Cipeundeuy, dua pelaku diringkus polisi

Sekolah, komunitas, bahkan industri kuliner perlu menjadikan bahan-bahan ini sebagai bagian dari narasi yang bangga.

Keterjajahan selera itu ternyata dampaknya bisa lebih besar dari keterjajahan politik seperti di masa kolonial.

Akibat diiklankan dan dijejalkan makanan seperti dinsum, spaghety, pizza, coca-colla dan teman-temannya, rupiah harus mengalir keluar, bila makanan-minuman itu telah dipatenkan oleh orang luar.

Kita mesti bisa berpikir terbalik, bagaimana caranya orang dari California, Tokyo, London, Amsterdam dan kota-kota lainnya, ketagihan mereguk bandrek atau bajigur yang telah dipatenkan oelh Indonesia, sehingga dolar yang mengalir ke tanah air.

Mengapa tidak ada brand 'Premium Oncom' seperti halnya truffle atau parmesan? Mengapa tape singkong belum jadi dessert yang dipresentasikan di restoran bintang lima? Padahal rasa dan keunikannya tidak kalah.

Baca Juga: ESAI: Peluang dan tantangan implementasi wakaf produktif di lembaga pendidikan

Gastronomi lokal bukan hanya soal melestarikan, tetapi juga tentang memodernisasi dengan tetap menjaga akar rasa.

Bayangkan seblak dimodifikasi menjadi sup fusion dengan kuah tom yum. Atau cilok yang dipadankan dengan saus truffle.

Dengan pendekatan yang tepat, bahan lokal ini bisa tampil global—tanpa kehilangan jiwa aslinya.

Rasa dari akar, cerita dari hati

Keanekaragaman pangan lokal Sunda bukan hanya variasi kuliner, tapi juga potret dari bagaimana masyarakat hidup, berpikir, dan mencintai alamnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X