ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Ia bukan nostalgia, melainkan manifestasi dari living heritage, warisan yang masih hidup dan terus beradaptasi.

Gastronomi sebagai cermin jati diri

Bicara tentang gastronomi Sunda adalah berbicara tentang identitas kolektif. Dari cara menyusun menu harian hingga adat makan bersama di lesehan, semua mencerminkan nilai-nilai luhur: kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa hormat.

Baca Juga: BLACKPINK kembali gelar konser di GBK Jakarta, ini 3 cara beli tiketnya

Bahkan makanan ringan seperti peuyeum, kue balok, atau surabi bisa menjadi simbol dari keseharian yang mengakar kuat.

Di era ketika dunia sedang menggandrungi konsep local food movement, Tanah Pasundan telah melakukannya jauh sebelum menjadi tren.

Masyarakatnya tidak hanya mengenal hasil bumi lokal, tetapi juga mengolahnya dengan penuh kreativitas dan rasa hormat.

Ini bukan soal kembali ke masa lalu, tapi justru melangkah ke masa depan dengan fondasi yang kuat: identitas yang tidak goyah meski zaman berubah.

Seorang futurolog masyhur, John Naisbit, melalui bukunya yang viral Paradox Global, terasa kontekstualnya ketika ia mengatakan, di era globalisasi di mana semua manusia berlomba untuk sama atas dorongan modernisme teknologi, bangsa-bangsa yang memiliki keunikan artefak budaya justru akan muncul ke permukaan.

Baca Juga: Kadin China dukung program MBG, siap bangun 1.000 dapur bergizi di Indonesia

Predisksi Naisbit tersebut perlu direnungkan dan menjadi wasilah untuk naik kelasnya gastronomi Indonesia, dalam konteks ini yang berasal dari Pasundan.

Sebuah undangan rasa

Jadi, ketika kita berbicara tentang 'gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan,' kita sedang mengundang siapa pun untuk menyelami lebih dari sekadar rasa asin, manis, pedas, atau gurilem (gurih dan pelem).

Kita sedang mengajak mereka merasakan rasa yang hidup, hidup dalam senyum ibu-ibu penjaja gorengan, dalam tanah subur yang menumbuhkan daun-daunan liar, dan dalam meja makan sederhana yang memuat dunia dalam satu piring.

Tanah Priangan bukan hanya tempat tinggal orang Sunda. Ia adalah tempat tinggal rasa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X