ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Ia tumbuh hampir di semua pekarangan rumah, mudah diolah, dan bisa disimpan dalam berbagai bentuk.

Dari singkong, lahirlah beragam olahan: tape, kripik, kicimpring, combro, misro, lemet, dan banyak lagi.

Dalam pandangan agro-gastronomi, singkong adalah tanaman resilien yang cocok dengan iklim dan tanah vulkanik Pasundan.

Ia tidak rewel, bisa tumbuh di tanah kering, dan tidak butuh pupuk mahal. Inilah sebabnya singkong menjadi tulang punggung ketahanan pangan di banyak daerah, terutama di masa krisis.

Beberapa transformasi rasa dari singkong yang paling memukau antara lain:

Baca Juga: Atasi kepadatan di Mina, Kemenag terapkan skema tanazul untuk 30 ribu jemaah haji

• Tape singkong: Proses fermentasi menciptakan rasa manis, asam, dan aroma khas. Diolah menjadi kue bolu, es tape, atau langsung dimakan.
• Kicimpring: Kripik tipis dari adonan singkong dan rempah, sering dijadikan camilan atau pelengkap nasi.
• Lemet: Kue manis kukus berbahan singkong parut, gula merah, dan kelapa, dibungkus daun pisang.

Dalam kerangka kuliner modern, singkong memiliki potensi luas. Ia bisa menjadi pengganti gluten, diolah menjadi pasta bebas gluten, tepung roti, bahkan digunakan dalam teknik kuliner molekuler untuk menciptakan gel dan saus.

Dapur kampung: Inkubator inovasi

Dapur-dapur kampung Sunda adalah inkubator alami dari inovasi kuliner. Tidak perlu alat canggih atau bahan mahal, cukup kreativitas, keterampilan rasa, dan ketersediaan bahan lokal.

Perempuan-perempuan di desa seperti Nagreg, Rancakalong, atau Cianjur, adalah food technologist tanpa gelar yang telah menciptakan resep turun-temurun.

Baca Juga: Hadapi puncak haji, Kemenag upayakan pasangan jemaah terpisah bisa bersama saat Armuzna

Mereka mengerti bagaimana memadukan bahan, mengukur rasa dengan intuisi, dan menjaga keutuhan rasa tradisi.

Dari dapur ini pula muncul konsep plating ala Sunda: sederhana tapi menarik. Nasi liwet dihidangkan di atas daun pisang, lalapan disusun dalam warna-warni, dan sambal selalu menjadi pusat perhatian.

Semua ini adalah bagian dari culinary aesthetics yang sebenarnya telah hidup lama sebelum masuk ke dunia restoran.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X