ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Baca Juga: Jelang laga Kualifikasi Piala Dunia, Patrick Kluivert: Entah main jelek atau bagus, yang penting menang

Jika tempe menggunakan kedelai utuh yang difermentasi oleh jamur Rhizopus oligosporus, maka oncom bisa berbahan dasar bungkil kacang, ampas tahu, atau bahkan ampas kelapa yang difermentasi oleh jamur Neurospora sitophila.

Ini adalah bentuk kuliner zero waste yang telah dilakukan masyarakat Sunda jauh sebelum konsep sustainability menjadi tren global.

Karakteristik rasa oncom sangat khas: gurih, sedikit asam, dan memiliki aroma yang 'bernyawa'.

Ia menjadi sumber rasa umami lokal—unsur kelima dalam rasa yang membuat makanan terasa lebih dalam dan memuaskan.

Dalam dunia gastronomi, umami adalah elemen kunci yang dicari chef kelas dunia untuk meningkatkan kompleksitas hidangan.

Dan oncom dengan segala kerendahannya—sudah menyediakannya secara alami.

Baca Juga: Fadli Zon tegaskan tidak ada eskalator di Candi Borobudur, yang dipasang chairlift seperti di situs dunia lain

Beberapa hidangan berbasis oncom yang ikonik antara lain:

• Comro (oncom di jero): Singkong parut isi oncom goreng.
• Tumis oncom leunca: Hidangan pedas penuh tekstur antara fermentasi dan pahit segar dari leunca.
• Nasi tutug oncom: Nasi yang diaduk bersama oncom panggang, jadi comfort food khas warga Priangan.

Oncom bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang filosofi: ti euweuh jadi aya (dari yang tak bernilai, menjadi bernilai).

Ini adalah bentuk kearifan lokal dalam melihat potensi dari sisa. Dalam dunia modern, oncom bisa menjadi ikon fermentasi tropis Indonesia, sejajar dengan miso Jepang atau kimchi Korea, jika dikembangkan secara tepat dan strategis.

Baca Juga: Ramai soal stairlift di Candi Borobudur jelang kunjungan Presiden Prabowo dan Macron, Istana: Tidak merusak cagar budaya

Singkong: Akar yang mengakar dalam rasa

Singkong atau sampeu, sebagai sumber utama aci, adalah bahan pangan yang paling membumi dalam budaya Sunda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X