ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Juri terdiri dari chef profesional, jurnalis makanan, budayawan, dan pelaku UMKM.

Kompetisi sebagai jalan inovasi

Dalam dunia kuliner internasional, kompetisi menjadi laboratorium kreatif. Ajang seperti Bocuse d'Or di Prancis atau S. Pellegrino Young Chef Competition telah melahirkan banyak pendekatan baru dalam memasak, plating, hingga filosofi makanan. Banyak hidangan ikonik dunia lahir dari semangat kompetisi.

Kita juga bisa meniru semangat ini. Misalnya, dalam lomba membuat olahan oncom, para peserta diminta tidak hanya membuat versi klasik seperti tutug atau comro, tapi menciptakan sesuatu yang baru: oncom ravioli, oncom cheesecake, atau bahkan oncom latte (dengan fermentasi diproses ulang sebagai sirup gurih).

Tentu inovasi tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru ia menjadi cara memperluas akar itu hingga ke ranah baru.

Inilah yang disebut sebagai cultural evolution through culinary innovation—evolusi budaya melalui inovasi rasa.

Baca Juga: PSG kuasai sepak bola Prancis, FFF wacanakan reformasi format Ligue 1

Etika, tradisi, dan kompetisi yang fair

Namun dalam setiap kompetisi, prinsip etika harus dijaga. Kompetisi bukan tentang saling menjatuhkan, tapi tentang saling mengangkat. Penilaian harus dilakukan dengan adil, tidak bias selera atau status sosial.

Juri tidak boleh sekadar melihat dari plating modern, tapi juga harus menghargai rasa autentik dan cerita di baliknya.

Tradisi juga tidak boleh ditinggalkan. Kompetisi justru bisa menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk kembali mengenal makanan-makanan yang mulai punah.

Bayangkan jika ada kategori khusus: Makanan Tradisional Terlupakan. Di sini peserta menyajikan kembali makanan langka seperti jalabria, gurandil, ketuk lindri, atau nasi goreng daun mengkudu dan menjelaskan sejarahnya.

Setiap kompetisi bisa menjadi ruang cultural revival, kebangkitan rasa yang sempat dilupakan.

Baca Juga: Timnas U-17 Indonesia satu grup dengan Brasil, Nova Arianto: Bukan grup yang mudah

Spirit lintas agama dan peradaban

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X