ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial

Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya tanpa perhitungan yang sempit dan Perhitungan/ prosedur administratif (HISAB) .

Udara mengalir bebas, air memancar dari bumi, cahaya matahari menyentuh siapa saja tanpa pernah menanyakan identitas.

Bahkan mereka yang mengingkari-Nya pun tetap menghirup oksigen yang sama, meminum air yang sama, dan hidup dari kemurahan yang sama.

Di sana tampak satu prinsip yang sederhana namun dalam, pemberian Tuhan tidak tunduk pada sekat-sekat buatan manusia.

Baca Juga: Subang jadi pusat kaderisasi GP Ansor Jabar, 164 peserta ikuti tiga agenda kaderisasi

Ia melampaui batas iman dan kufur, melampaui layak dan tidak layak menurut ukuran manusia.

Rezeki, dalam bentuk paling dasarnya, adalah anugerah yang mengalir, bukan komoditas yang dibatasi.

Namun ketika sumber-sumber itu jatuh ke dalam penguasaan manusia, sesuatu mulai berubah. Apa yang semula mengalir bebas, perlahan dipagari.

Air yang dahulu menjadi hak semua makhluk kini dialirkan melalui pipa-pipa yang berujung pada meteran.

Baca Juga: Evakuasi dramatis 2 pekerja di Jaktim: Bagian tubuh korban sempat tertimbun usai robohnya beton drainase

Udara yang semula tak bernilai karena kelimpahannya, kini bisa dikemas, diberi harga, dan dijual dalam tabung-tabung.

Di titik ini, manusia tidak sekadar mengelola, tetapi mulai menentukan siapa yang boleh mengakses dan siapa yang tidak.

Untuk mendapatkan sesuatu yang sejatinya menjadi penopang hidup, seseorang harus melewati prosedur, mendaftar, diidentifikasi, diverifikasi, lalu menunggu giliran.

Bahkan dalam situasi genting, ketika nyawa berada di ambang batas, akses terhadap hal-hal mendasar itu tetap tunduk pada aturan administratif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X