Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya tanpa perhitungan yang sempit dan Perhitungan/ prosedur administratif (HISAB) .
Udara mengalir bebas, air memancar dari bumi, cahaya matahari menyentuh siapa saja tanpa pernah menanyakan identitas.
Bahkan mereka yang mengingkari-Nya pun tetap menghirup oksigen yang sama, meminum air yang sama, dan hidup dari kemurahan yang sama.
Di sana tampak satu prinsip yang sederhana namun dalam, pemberian Tuhan tidak tunduk pada sekat-sekat buatan manusia.
Baca Juga: Subang jadi pusat kaderisasi GP Ansor Jabar, 164 peserta ikuti tiga agenda kaderisasi
Ia melampaui batas iman dan kufur, melampaui layak dan tidak layak menurut ukuran manusia.
Rezeki, dalam bentuk paling dasarnya, adalah anugerah yang mengalir, bukan komoditas yang dibatasi.
Namun ketika sumber-sumber itu jatuh ke dalam penguasaan manusia, sesuatu mulai berubah. Apa yang semula mengalir bebas, perlahan dipagari.
Air yang dahulu menjadi hak semua makhluk kini dialirkan melalui pipa-pipa yang berujung pada meteran.
Udara yang semula tak bernilai karena kelimpahannya, kini bisa dikemas, diberi harga, dan dijual dalam tabung-tabung.
Di titik ini, manusia tidak sekadar mengelola, tetapi mulai menentukan siapa yang boleh mengakses dan siapa yang tidak.
Untuk mendapatkan sesuatu yang sejatinya menjadi penopang hidup, seseorang harus melewati prosedur, mendaftar, diidentifikasi, diverifikasi, lalu menunggu giliran.
Bahkan dalam situasi genting, ketika nyawa berada di ambang batas, akses terhadap hal-hal mendasar itu tetap tunduk pada aturan administratif.
Artikel Terkait
Eksplorasi filosofis, menggali makna alam semesta dari perspektif para filsuf dunia
Perspektif mendalam para filsuf tentang alam semesta
ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah
ESAI: Satu Suro, ketika semesta berbisik dan energi mengamini
Tabayyun materi mens rea, MUI ungkap dua poin penting hasil pertemuan dengan Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono datangi Polda Metro Jaya, minta penjelasan soal pelaporan materi stand up ‘Mens Rea’
ESAI: Peran jurnalis dalam perkembangan sastra Indonesia