ESAI: Manusia, modern yang kehilangan prinsip tartil

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 26 Agustus 2026 | 06:29 WIB
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial

Mengapa manusia senang bertamasya, menikmati gunung, hutan, laut, sawah, dan pemandangan alam? Karena manusia dan alam sesungguhnya bersenyawa. Ada sesuatu dalam diri manusia yang selaras dengan proses alam.

Alam tidak diciptakan secara serba-instan. Al-Qur’an menyebut penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam sittati ayyām, enam masa atau tahapan.

Begitu pula 6 fase penciptaan manusia. Dari nutfah hingga menjadi bayi, proses penciptaannya berlangsung melalui tahapan demi tahapan hingga mencapai bentuk akhirnya (khalqan ākhār). Tidak terjadi dalam sekejap, tetapi melalui proses panjang.

Baca Juga: 1 Keluarga pemilik kos Tebet dilaporkan tewas dalam insiden kebakaran: Dikenal ramah, punya bisnis fotocopy

Karena itu, Kun fayakūn tidak tepat dipahami secara sederhana seperti seorang pesulap menjentikkan jari lalu sesuatu tiba-tiba muncul.

'Jadilah, maka jadilah ia' menunjukkan kekuasaan Allah, bukan berarti seluruh proses penciptaan harus berlangsung tanpa tahapan. Justru hukum kehidupan menunjukkan sebaliknya, Allah menciptakan dengan proses.

Mungkin itu pula sebabnya manusia merasa lebih refresh ketika berada di alam dibandingkan ketika berhadapan dengan benda-benda hasil fabrikasi.

Melihat gunung, sungai, pepohonan, atau hamparan sawah menghadapkan manusia pada sesuatu yang tumbuh melalui proses.

Baca Juga: Beredar video seniman ketoprak Sarjiyono yang dikabarkan wafat saat tampil di Bantul, gimana awalnya?

Sementara mobil, palu, gedung, dan berbagai produk industri lahir melalui sistem produksi yang mengejar kecepatan, efisiensi, dan hasil.

Di sinilah persoalan manusia modern bermula.

Tata kelola kehidupan yang terlalu materialistik telah membuat manusia semakin jauh dari ritme alam, bahkan terasing dari dirinya sendiri.

Makanan diproduksi agar cepat tumbuh, cepat dipanen, cepat diolah, dan cepat dikonsumsi. Manusia pun dituntut bekerja semakin cepat demi mengejar target produksi dan kompetisi.

Baca Juga: Kronologi pendaki tewas terjatuh di jurang Gunung Sumbing, awalnya terpisah saat turun dari puncak

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB
X