Mengapa manusia senang bertamasya, menikmati gunung, hutan, laut, sawah, dan pemandangan alam? Karena manusia dan alam sesungguhnya bersenyawa. Ada sesuatu dalam diri manusia yang selaras dengan proses alam.
Alam tidak diciptakan secara serba-instan. Al-Qur’an menyebut penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam sittati ayyām, enam masa atau tahapan.
Begitu pula 6 fase penciptaan manusia. Dari nutfah hingga menjadi bayi, proses penciptaannya berlangsung melalui tahapan demi tahapan hingga mencapai bentuk akhirnya (khalqan ākhār). Tidak terjadi dalam sekejap, tetapi melalui proses panjang.
Karena itu, Kun fayakūn tidak tepat dipahami secara sederhana seperti seorang pesulap menjentikkan jari lalu sesuatu tiba-tiba muncul.
'Jadilah, maka jadilah ia' menunjukkan kekuasaan Allah, bukan berarti seluruh proses penciptaan harus berlangsung tanpa tahapan. Justru hukum kehidupan menunjukkan sebaliknya, Allah menciptakan dengan proses.
Mungkin itu pula sebabnya manusia merasa lebih refresh ketika berada di alam dibandingkan ketika berhadapan dengan benda-benda hasil fabrikasi.
Melihat gunung, sungai, pepohonan, atau hamparan sawah menghadapkan manusia pada sesuatu yang tumbuh melalui proses.
Sementara mobil, palu, gedung, dan berbagai produk industri lahir melalui sistem produksi yang mengejar kecepatan, efisiensi, dan hasil.
Di sinilah persoalan manusia modern bermula.
Tata kelola kehidupan yang terlalu materialistik telah membuat manusia semakin jauh dari ritme alam, bahkan terasing dari dirinya sendiri.
Makanan diproduksi agar cepat tumbuh, cepat dipanen, cepat diolah, dan cepat dikonsumsi. Manusia pun dituntut bekerja semakin cepat demi mengejar target produksi dan kompetisi.
Baca Juga: Kronologi pendaki tewas terjatuh di jurang Gunung Sumbing, awalnya terpisah saat turun dari puncak
Artikel Terkait
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Dompet digital: Cara baru atur keuangan dan belanja di era modern
3 Prinsip investasi abadi Benjamin Graham: Warisan untuk investor modern
CoreLab Promedia 2025 siap sambangi Unesa, mahasiswa diberi wawasan content creator dan jurnalisme modern
Dilema pendidikan Islam modern: Lembaga yang kaku atau murid yang problematis?
ESAI: Feodalisme warisan budaya materi
ESAI: Keracunan MBG terus berulang, pecah dapur 3.000 porsi, sebarkan manfaat ekonominya