ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial

 

Dalam tradisi kekuasaan materialistis kuno, feodalisme terlihat dalam cara orang menghadap raja atau kaisar. Ada protokol khusus yang harus ditempuh sebelum seseorang dapat bertemu dengan Raja Agung atau Kaisar.

Ada aturan tentang siapa yang boleh mendekat, bagaimana cara berdiri, dan bagaimana seseorang harus menempatkan dirinya di hadapan penguasa.

Namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW. Siapa pun dapat bertemu Rasulullah, kecuali pada waktu-waktu privasi beliau.

Bahkan saking egaliternya, seorang pemimpin besar bernama Muhammad memanggil para pengikutnya dengan sebutan 'sahabat.'

Baca Juga: Kisah inspiratif: Anak sekolah di Papua datangi guru untuk berbagi buah-sayur, wujud balas budi dalam kesederhanaan

Salah satu agenda besar yang dibawa Rasulullah SAW adalah fakku raqabah, membebaskan manusia dari belenggu perbudakan.

Spirit pembebasan ini juga dapat dibaca sebagai pembebasan manusia dari berbagai bentuk feodalisme dalam hubungan sosial, antara tokoh dan rakyat biasa, antara si pintar dan si bodoh, antara si miskin dan si kaya.

Sikap feodalistis bukanlah karakter asli manusia. Manusia secara fitrah saling membutuhkan, saling mengayomi, dan saling memuliakan.

Sikap feodalistis lahir dari sistem kekuasaan materialistis, ketika aturan dan ukuran kehidupan ditentukan oleh hawa nafsu dan kebodohan penguasa.

Baca Juga: Makam Sutrimo karumga Febrie Adriansyah mulai dibongkar, ekshumasi jenazah libatkan ahli forensik

Shalat dan zakat adalah dua konsep yang tidak pernah terpisah dalam membangun tata kehidupan manusia. Shalat merupakan konsep tata kelola sosial, sementara zakat merupakan konsep tata kelola ekonomi.

Shalat membangun keteraturan, kedisiplinan, kebersamaan, dan kesetaraan manusia dalam satu barisan. Tidak ada saf khusus bagi orang kaya, pejabat, bangsawan, atau orang yang memiliki pengaruh.

Sedangkan zakat mengatur distribusi kekayaan agar ekonomi tidak hanya berputar di kalangan mereka yang memiliki modal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X