ESAI: Peluang dan tantangan implementasi wakaf produktif di lembaga pendidikan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 28 Mei 2025 | 12:13 WIB
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial

Penurunan daya beli masyarakat yang sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir nyatanya membawa dampak yang cukup besar bagi dunia pendidikan.

Selain menghadapi penurunan jumlah pendaftar secara signifikan, sekolah-sekolah yang bernaung di bawah yayasan (swasta) juga tengah berjuang keras mengatasi tingginya jumlah tunggakan orangtua.

Padahal, dana yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Program peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru serta pemenuhan kebutuhan sarana penunjang pembelajaran dikhawatirkan akan terhambat apabila kondisi semacam ini berlangsung cukup lama.

Baca Juga: Sentuhan kampung halaman sambut jemaah, tenda di Arafah dan Mina gunakan bahan dari Cirebon dan Cianjur

Di sisi lain, kebijakan lembaga untuk menahan ijazah siswa sebagai jalan terakhir agar orang tua segera menunaikan kewajibannya, nampaknya sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.

Selain bertentangan dengan aturan yang berlaku, cara semacam ini juga nyatanya tidak mampu mendongkrak pendapatan lembaga secara signifikan.

Sebaliknya, ijazah siswa yang 'tertahan' di sekolah justru tak jarang menimbulkan permasalahan baru bagi kedua belah pihak.

Menyikapi kondisi yang sedang tidak baik-baik saja tersebut, beragam cara pun ditempuh oleh lembaga untuk dapat tetap bertahan.

Baca Juga: Syarikah berlomba ciptakan kenyamanan bagi jemaah haji Indonesia, tenda di Mina usung nuansa tanah air

Mulai dari menurunkan (sebagian) biaya pendidikan yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya pendapatan guru, sampai dengan merumahkan sebagian pendidiknya karena minimnya jumlah siswa baru.

Jika kondisi semacam ini berlangsung terus menerus, dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya kualitas layanan pendidikan.

Apa yang penulis paparkan di atas sejatinya menunjukkan semakin beratnya tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan, di masa kini dan masa yang akan datang.

Fenomena di atas juga secara tidak langsung mendorong pengelola lembaga untuk lebih kreatif dalam mencari sumber-sumber pendanaan selain dari orangtua dan pemerintah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X