Sayuran dataran tinggi seperti kol, wortel, dan kentang tumbuh dengan rasa yang lebih segar dan renyah, berkat tanah vulkanik yang kaya mineral.
Dalam kacamata agro-gastronomi, disiplin yang mempelajari keterkaitan antara pertanian dan makanan, Tanah Priangan adalah contoh sempurna bagaimana lanskap menciptakan rasa.
Singkong yang ditanam di dataran tinggi Bandung memiliki kadar air yang berbeda dari yang ditanam di pesisir Selatan. Bahkan daun singkong pun memiliki rasa yang lebih lembut dan tidak pahit saat dipanen di musim penghujan.
Inilah terroir versi Sunda: rasa yang tidak bisa dipisahkan dari tanah tempat ia lahir.
Boleh saja benih singkong berasal dari Bandung – Jawa Barat, di tanam di kawasan lain, namun rasanya akan berbeda.
Baca Juga: Momen Macron tanya lukisan Soekarno di Istana, Prabowo jawab dengan bangga: Presiden pertama kami
Comro dan batagor Bandung, sulit diadopsi dengan rasa yang sama persis dan akurat oleh para chef mumpuni dari Jakarta sekalipun.
Itulah keajaiban alam yang bagi sebagian orang tahu artinya bersyukur dan berzikir, menunjukkan kuasa Sang Prima Kausa.
Melawan arus konsumerisme dengan kearifan rasa
Di tengah derasnya arus konsumsi global dan budaya instan, banyak masyarakat urban kehilangan keterhubungan dengan makanan mereka.
Restoran cepat saji, makanan beku, dan camilan pabrikan mungkin praktis, tapi memisahkan kita dari nilai budaya yang melekat pada proses makan.
Makanan bukan lagi pengalaman, melainkan produk. Di sinilah gastronomi lokal seperti yang tumbuh di Tanah Pasundan menjadi bentuk perlawanan yang halus namun kuat.
Baca Juga: Dedi Mulyadi klaim dua kali diteror ular kobra: Jangan dong, nanti yang ketiganya kamu apes
Ketika seorang ibu di Cianjur masih menyajikan nasi tutug oncom dengan sambal terasi dan lalapan segar dari kebun samping rumah, sesungguhnya ia sedang menyampaikan pesan budaya yang kuat: makan itu bukan sekadar kenyang, tapi juga tentang merawat warisan, membangun ikatan sosial, dan menjaga harmoni dengan alam.
Ini adalah bentuk dari culinary resilience, daya tahan budaya makan dalam menghadapi gempuran modernitas.