Di warung pinggir jalan. Dan di hati orang-orang yang masih mau mencicipi dengan sepenuh jiwa.
Baca Juga: Hakim AS blokir sementara rencana pemerintahan Trump batasi mahasiswa asing di Harvard
Penutup dari hati
Tanah Priangan adalah anugerah. Gunungnya menjaga, tanahnya subur, dan masyarakatnya menyimpan ribuan rasa yang belum semuanya kita kenal.
Dari aci hingga oncom, dari sambal dadak hingga kue tradisi, setiap suapan menyimpan sejarah, setiap aroma menyimpan ingatan.
Mari kita jaga rasa ini. Mari kita rawat dengan semangat. Karena saat kita menjaga rasa, kita sedang menjaga bangsa.
Saat kita menciptakan rasa baru dari bahan lama, kita sedang menulis bab baru dalam buku besar peradaban.
Di tengah dunia yang terus berubah cepat, rasa adalah jangkar. Ia mengingatkan kita pada siapa kita sebenarnya. Dan di Tanah Priangan, rasa itu masih ada, menunggu untuk dihidupkan kembali. Oleh kita. Sekarang.
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot