esai

ESAI: Gastronomi dan keajaiban Tanah Priangan

Kamis, 29 Mei 2025 | 12:55 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Sastrawan cum Wartawan, Peneliti tata kelola sampah hayati dan maggot

Menariknya, semangat berlomba dalam kebaikan juga tertanam dalam teks suci berbagai agama. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Fastabiqul khairat” – Berlomba-lombalah dalam kebaikan. (Q.S. Al-Baqarah: 148)

Dalam Weda:

“Orang yang bersemangat dan tekun, akan berhasil dan hidup dalam kemakmuran. Para dewa tidak akan menolong orang yang malas.” (Ṛgveda VII.32.9)

Dan dalam Injil:

“Kamu telah berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalangi kamu, sehingga kamu tidak menaati kebenaran?” (Galatia 5:7)

Semua teks ini menekankan bahwa persaingan sehat, kerja keras, dan pencarian mutu tertinggi adalah nilai spiritual yang mendalam.

Baca Juga: Kevin Diks persembahkan trofi untuk Copenhagen, cetak gol di laga terakhir

Maka kompetisi kuliner tidak hanya sebagai ajang show-off, tapi justru bentuk spiritualitas yang membumi: menumbuhkan etos kerja, ketekunan, dan kreativitas demi kemaslahatan rasa bersama.

Mengapa kompetisi harus berkelanjutan?

Kompetisi yang hanya digelar satu kali tidak akan membentuk ekosistem. Yang dibutuhkan adalah kesinambungan: program berjenjang, platform dokumentasi digital, pelibatan media, dan integrasi dengan industri.

Kompetisi harus membuka jalan ke inkubator usaha kuliner, akses ke pelatihan, pendampingan branding, hingga koneksi ke pasar ekspor.

Jika dilakukan dengan konsisten, kompetisi bisa menjadi gastronomic accelerator—penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis rasa.

Dari piring ke panggung dunia

Kompetisi adalah jalan untuk menjadikan rasa lokal sebagai kebanggaan global. Ia adalah cara untuk merangsang daya cipta, melestarikan warisan, dan menyatukan rasa dengan prestasi.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB