“Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum.”
– M.A.W. Brouwer
Kalimat di atas bukan sekadar untaian kata dari seorang filsuf berkebangsaan Belanda yang jatuh cinta pada budaya Nusantara.
Ia adalah pernyataan batin yang memancarkan ketulusan dan kekaguman, sekaligus menjadi pintu gerbang untuk memahami mengapa Tanah Priangan yang membentang di Jawa Barat begitu kaya bukan hanya secara alam, tetapi juga dalam hormat dan rasa hidup.
Pasundan bukanlah sekadar wilayah administratif. Ia adalah harmoni yang menyatu antara bentang alam, sejarah geologi, karakter sosial, dan tentu saja rasa dalam pengertian yang paling dalam: taste.
Baca Juga: DMI latih ratusan pengurus masjid Subang jadi juru sembelih halal
Rasa yang tak hanya lahir di lidah, tapi juga menyentuh hati. Ketika kita berbicara tentang gastronomi Tanah Priangan, kita tidak sedang membahas daftar makanan semata, melainkan menjelajahi cara hidup.
Gastronomi di sini adalah cermin dari falsafah hidup yang sederhana, berdaya cipta tinggi, dan sarat nilai kearifan lokal.
Ketika senyum menjadi rasa
Mari kita mulai dari satu kata yang begitu lekat dengan orang Sunda: someah. Ini bukan hanya sinonim dari ramah, tapi juga menyiratkan kehangatan, keramahan hati, dan kesediaan untuk menyambut siapa pun yang datang.
Di desa-desa kecil yang menghampar di bawah kaki Gunung Tangkubanparahu, Ciremai, Pangrango, Gede, atau Papandayan, 'someah' bukan teori sosial, melainkan praktik sehari-hari.
Ia hadir di wajah para ibu yang menyajikan nasi timbel dengan sambal dadak segar, atau dalam sapaan bapak tua penjaja karedok keliling.
Dalam bahasa gastronomi modern, keramahan semacam ini menciptakan pengalaman bersantap yang tidak hanya enak secara rasa, tapi juga mendalam secara emosional sebuah konsep yang kini populer disebut sebagai emotional dining atau culinary hospitality.