Dalam dunia gastronomi, mereka adalah bentuk konkret dari konsep humble ingredients, bold flavors bahan sederhana, rasa luar biasa.
Baca Juga: Panggilan perdana ke Timnas Senior, Beckham Putra ingin bikin takjub Patrick Kluivert
Aci: Tepung kecil dengan jejak rasa besar
Aci, atau tepung kanji dari pati singkong, adalah bahan dasar yang telah melahirkan revolusi jajanan di Tanah Sunda. Sifat elastisnya yang kenyal memungkinkan eksplorasi tekstur yang sangat kaya.
Tekstur chewy yang dihasilkan aci disebut al dente lokal oleh beberapa chef menjadi ciri khas dari berbagai makanan seperti cilok, cireng, cimol, cilor, hingga seblak.
Sebutan nama-nama tersebut juga memperlihatkan kreativitas linguistik masyarakat Sunda.
Mereka suka menciptakan istilah kirata (dikira-kira tapi nyata) untuk banyak hal, termasuk kuliner dengan bunyi yang lucu, mudah diingat, dan dekat secara sosial. Contohnya:
• Cilok = Aci dicolok (kanji yang ditusuk)
• Cireng = Aci digoreng
• Cimol = Aci digemol (dibentuk bulat)
• Cilor = Aci telur
• Seblak = Kerupuk basah dimasak pedas dengan campuran aci
Baca Juga: Luna Maya serahkan ‘jabatan’ Ketua Jomblo ke Raline Shah: Jomblo butuh inspirasi
Dalam kerangka street food culture, aci adalah superstar. Ia fleksibel, murah, dan bisa disandingkan dengan bumbu kuat seperti kencur, cabai, dan bawang putih.
Saat dikombinasikan dengan telur, tulang ayam, atau sosis, maka aci menjadi jembatan antara rasa lokal dan modern.
Namun, keistimewaan aci bukan hanya pada rasa atau tekstur. Secara sosial, ia adalah bahan yang inklusif semua lapisan masyarakat bisa mengakses dan menikmatinya.
Ini menjadikannya contoh ideal dari gastronomi kerakyatan, di mana makanan tidak hanya tentang kenikmatan, tapi juga keterjangkauan dan kebersamaan.
Oncom: Fermentasi, umami, dan identitas
Oncom adalah bahan fermentasi khas Sunda yang sering disejajarkan dengan tempe, namun memiliki karakter rasa dan aroma yang jauh lebih kompleks.