ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

Baca Juga: Wamenaker: Ratusan eks karyawan Sritex sudah bekerja di tempat baru

“Kalau teknologi malah bikin wisatawan merasa dingin, berarti kita keliru dalam memakainya,” ujarnya.

Salah satu proyek ambisius yang ia banggakan adalah SISPARNAS (Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional). Ini bukan sekadar dashboard digital.

Ia adalah semacam nadi elektronik yang mengumpulkan data pariwisata dari seluruh Indonesia secara real-time.

Dengan sistem ini, pemerintah pusat bisa mengetahui tren wisata, arus kunjungan, hingga kekuatan daya saing suatu daerah.
Namun bagi Hariyanto, data hanyalah alat bantu.

“Kami tetap harus datang ke lapangan, bicara dengan warga, merasakan denyut desa. Algoritma tak bisa mencium aroma dapur ibu-ibu di desa wisata,” katanya dengan senyum reflektif.

Baca Juga: Bareskrim hentikan penyelidikan dugaan ijazah palsu Jokowi, ijazah terbukti otentik

Teknologi juga digunakan untuk meningkatkan literasi pelaku wisata. Pelatihan digital marketing, pencatatan keuangan digital, bahkan pengelolaan reservasi secara daring kini menjadi kurikulum wajib di program pendampingan desa wisata.

Ia mencontohkan seorang pemuda di Nusa Tenggara Timur yang dulunya hanya jadi tukang ojek. Setelah ikut pelatihan, ia membuka paket tur lewat Instagram dan WhatsApp.

“Sekarang, dia punya tiga motor, dua karyawan, dan bahkan disewa oleh travel agent dari Australia,” kisahnya.

Inilah esensi yang ia maksud: teknologi harus melipatgandakan nilai manusia, bukan menghapus perannya.

Dalam konteks promosi, teknologi juga jadi senjata baru. Pemerintah mulai memakai AI untuk menganalisis preferensi wisatawan.

Baca Juga: ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah

Misalnya, dari data pencarian dan aktivitas media sosial, sistem bisa merekomendasikan promosi spesifik untuk target tertentu: selancar untuk anak muda, wisata spiritual untuk manula, atau kuliner halal untuk wisatawan Muslim.

Tapi meski sudah bicara data besar dan kecerdasan buatan, Hariyanto tetap kembali pada hal-hal kecil.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X