ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

“Agar kita bisa saling melihat, saling menghargai, dan akhirnya—saling mencintai.”

Negeri yang tahu cara menyambut

Ada satu hal yang tak bisa dibeli oleh promosi miliaran rupiah, atau dibangun oleh megaproyek bertahun-tahun: rasa diterima. Dan dalam pembicaraan panjang bersama Hariyanto, saya belajar bahwa itulah kunci dari pariwisata yang benar-benar bermakna.

Bukan sekadar soal kunjungan, tetapi soal keterikatan. Bukan hanya angka di dashboard kementerian, tetapi kesan yang tinggal di hati seorang tamu.

Ketika pariwisata dibangun di atas nilai—kesetaraan, keramahan, kebersihan, rasa hormat, dan kebanggaan lokal—ia tak hanya menjadi sektor ekonomi. Ia menjadi ruang perjumpaan.

Baca Juga: Terdakwa Zulkarnaen bantah Budi Arie terlibat judol: Saya bisa pertanggungjawabkan dunia akhirat

Ruang di mana orang kota belajar kembali menyapa, orang desa belajar percaya diri, dan bangsa ini belajar merayakan dirinya sendiri, bukan lewat imitasi, tapi lewat keaslian.

Hariyanto tidak menjanjikan jalan yang mudah. Ia tahu ada tantangan—ketimpangan, birokrasi, SDM yang belum siap, bahkan budaya instan yang membanjiri media sosial. Tapi ia percaya pada satu hal yang tetap: warga yang siap menjadi tuan rumah.

Dalam dunia yang makin tidak personal, Indonesia masih punya kelebihan yang tidak bisa ditiru oleh negara mana pun: kebudayaan menyambut.

Senyum. Sapa. Cerita. Kain tenun yang dibuka di teras. Makanan sederhana yang disajikan dengan bangga. Semua itu bukan hanya elemen wisata. Itu adalah wajah Indonesia.

Dan barangkali, di situlah esensi pariwisata Indonesia yang sedang dibangun oleh tangan-tangan seperti Hariyanto.

Baca Juga: Budi Arie terseret kasus judol, diduga terima jatah 50 persen saat jadi Menkominfo

Sebuah pembangunan yang tidak sekadar menata ruang, tetapi juga menata hati. Sebuah kemajuan yang tidak meninggalkan akar, melainkan menyiraminya.

Jadi jika suatu hari Anda menginjakkan kaki di sebuah desa kecil, lalu disambut oleh seorang kakek yang menceritakan legenda sungai sambil menyodorkan teh hangat, jangan buru-buru mengira Anda hanya sedang berwisata.

Mungkin, Anda sedang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: upaya satu bangsa untuk mengenali dan mencintai dirinya sendiri—melalui cara ia menyambut orang lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X