Desa, dalam bayangan Hariyanto, adalah titik pijak untuk membumi dan titik lompat untuk menatap dunia. Bukan hanya untuk turis, tapi untuk Indonesia sendiri—agar ingat darimana ia berasal, dan tahu ke mana ia ingin menuju.
4. Senyum, bukan bandara
Suatu hari, dalam sebuah kunjungan ke desa wisata di Kalimantan Tengah, Hariyanto melihat sesuatu yang ia anggap lebih penting dari jalan beton atau jembatan gantung: seorang ibu tua menyapa rombongan wisatawan dengan tangan terbuka, mata berbinar, dan tawa yang tak dibuat-buat.
Tidak ada papan sambutan, tidak ada dekorasi mewah. Hanya sebuah pelukan budaya yang tak terlihat, tapi terasa hangat.
“Mereka mungkin datang karena ingin lihat orangutan. Tapi mereka pulang karena keramahan ibu itu,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Perpres Perlindungan Jaksa 2025 resmi diteken, ini poin penting dan tanggapan Kejagung
Itulah mengapa, menurutnya, membangun destinasi tidak bisa hanya dengan membangun bandara, resort, atau pusat oleh-oleh.
“Semua itu penting, iya. Tapi bukan itu yang membuat orang ingin kembali,” ujarnya. “Yang membuat orang kembali adalah rasa diterima.”
Maka tak heran jika Kemenpar mengarusutamakan pendidikan karakter pariwisata. Program seperti Sadar Wisata dan Sapta Pesona bukan hanya kampanye.
Mereka adalah proses panjang menanamkan kesadaran kolektif bahwa setiap warga, setiap pelayan warung, tukang ojek, atau anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan, adalah bagian dari ekosistem pariwisata. Mereka semua tuan rumah.
“Senyum, kebersihan, keramahan, rasa aman, dan suasana damai adalah modal utama. Tanpa itu, bandara sebesar apapun tak akan menyelamatkan destinasi dari kehampaan.”
Baca Juga: Pemilik CV Sentoso Seal jadi tersangka, simpan 108 ijazah eks pegawai di rumah
Hariyanto bahkan menyebut program Gerakan Wisata Bersih sebagai revolusi diam-diam. Ia tidak datang dengan proyek jutaan dolar, tetapi dengan sapu lidi, tempat sampah, dan ajakan mulut ke mulut.
Hasilnya? Pantai-pantai yang dulu penuh sampah kini jadi tempat syuting sinetron. Jalan desa yang dulu becek, kini dihias mural hasil karya anak-anak lokal. Dan yang terpenting: warga mulai bangga.
“Ketika masyarakat merasa bahwa mereka adalah bagian dari destinasi, mereka akan menjaganya. Bukan karena disuruh, tapi karena cinta,” ujarnya.
Artikel Terkait
Bianglala jadi wahana favorit baru pengunjung Flora Wisata D’Castello, Guntara : Berkat dorongan pemerintah dan teman-teman media
Menparekraf Sandiaga Uno kunjungi Desa Cisaat dan serahkan penghargaan Desa Wisata Cisaat masuk ke dalam Top 50 Desa Wisata ADWI 2024
Rayakan liburan tahun baru, ini rekomendasi wisata di sekitar ruas tol ASTRA Infra
Ayo-Promedia gelar touring ke Rancabuaya! intip 3 fakta wisata pantai eksotis di Garut yang diidamkan wisatawan
‘Sabtu Bersama Kang Rey’: Strategi wisata Bupati Subang gaet PAD dan investasi
D'Castello dorong wisata ramah lingkungan lewat aksi tanam 1.000 pohon di Ciater
Rekomendasi 5 destinasi wisata bertema Buddha untuk libur Waisak 2025