ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

Desa, dalam bayangan Hariyanto, adalah titik pijak untuk membumi dan titik lompat untuk menatap dunia. Bukan hanya untuk turis, tapi untuk Indonesia sendiri—agar ingat darimana ia berasal, dan tahu ke mana ia ingin menuju.

4. Senyum, bukan bandara

Suatu hari, dalam sebuah kunjungan ke desa wisata di Kalimantan Tengah, Hariyanto melihat sesuatu yang ia anggap lebih penting dari jalan beton atau jembatan gantung: seorang ibu tua menyapa rombongan wisatawan dengan tangan terbuka, mata berbinar, dan tawa yang tak dibuat-buat.

Tidak ada papan sambutan, tidak ada dekorasi mewah. Hanya sebuah pelukan budaya yang tak terlihat, tapi terasa hangat.

“Mereka mungkin datang karena ingin lihat orangutan. Tapi mereka pulang karena keramahan ibu itu,” katanya sambil tersenyum.

Baca Juga: Perpres Perlindungan Jaksa 2025 resmi diteken, ini poin penting dan tanggapan Kejagung

Itulah mengapa, menurutnya, membangun destinasi tidak bisa hanya dengan membangun bandara, resort, atau pusat oleh-oleh.

“Semua itu penting, iya. Tapi bukan itu yang membuat orang ingin kembali,” ujarnya. “Yang membuat orang kembali adalah rasa diterima.”

Maka tak heran jika Kemenpar mengarusutamakan pendidikan karakter pariwisata. Program seperti Sadar Wisata dan Sapta Pesona bukan hanya kampanye.

Mereka adalah proses panjang menanamkan kesadaran kolektif bahwa setiap warga, setiap pelayan warung, tukang ojek, atau anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan, adalah bagian dari ekosistem pariwisata. Mereka semua tuan rumah.

“Senyum, kebersihan, keramahan, rasa aman, dan suasana damai adalah modal utama. Tanpa itu, bandara sebesar apapun tak akan menyelamatkan destinasi dari kehampaan.”

Baca Juga: Pemilik CV Sentoso Seal jadi tersangka, simpan 108 ijazah eks pegawai di rumah

Hariyanto bahkan menyebut program Gerakan Wisata Bersih sebagai revolusi diam-diam. Ia tidak datang dengan proyek jutaan dolar, tetapi dengan sapu lidi, tempat sampah, dan ajakan mulut ke mulut.

Hasilnya? Pantai-pantai yang dulu penuh sampah kini jadi tempat syuting sinetron. Jalan desa yang dulu becek, kini dihias mural hasil karya anak-anak lokal. Dan yang terpenting: warga mulai bangga.

“Ketika masyarakat merasa bahwa mereka adalah bagian dari destinasi, mereka akan menjaganya. Bukan karena disuruh, tapi karena cinta,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X