“AI bisa tahu kamu suka sunset. Tapi hanya manusia yang bisa tahu kenapa kamu menangis saat melihatnya,” ujarnya.
Virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) pun kini mulai digunakan. Turis bisa menjelajah Borobudur lewat ponsel sebelum datang langsung. Museum bisa menghadirkan sejarah lewat pengalaman imersif.
Tapi di setiap inovasi itu, prinsipnya tetap sama: jangan sampai teknologi menjadi pengganti interaksi, melainkan pengantar rasa penasaran yang membawa orang untuk bertemu langsung.
Baca Juga: BCA resmi jadi penyalur FLPP, Menteri PKP optimis target 3 juta rumah tercapai
Bagi Hariyanto, teknologi adalah pintu, bukan ruang tamu. Ia membuka jalan, tapi yang menyambut tetap manusia.
Dan di dunia yang makin tenggelam dalam gawai, ia percaya: senyum hangat, cerita lisan, dan kehadiran nyata akan jadi komoditas langka yang paling dicari.
“Teknologi harus memperkuat empati,” katanya. “Kalau tidak, kita hanya akan punya pameran digital dari negeri yang sudah lupa cara menyambut tamu.”
6. Refleksi: Siapa yang sebenarnya butuh wisata?
Ketika saya menutup buku catatan dan memandang ke luar jendela ruang kerja Hariyanto, awan Jakarta menggantung rendah seperti menggoda satu pertanyaan terakhir.
Maka saya ajukan—bukan dalam bentuk strategi atau angka, tapi dalam bentuk perenungan: "Menurut Bapak, siapa yang sebenarnya butuh wisata?"
Baca Juga: PT Dahana serahkan bantuan sarana pendidikan untuk sekolah di Subang, dukung pendidikan berkualitas
Hariyanto diam sejenak, lalu menjawab dengan lirih, nyaris seperti menjawab dirinya sendiri, “Kita semua.”
Pertama, kata beliau, wisata bukan hanya soal rekreasi atau pengeluaran uang. Wisata adalah ruang jeda—tempat manusia berhenti sejenak dari rutinitas, dari layar, dari berita buruk, dan dari segala tekanan hidup.
Tapi lebih dari itu, wisata adalah proses mengenali diri lewat orang lain, dan mengenali negeri lewat warganya.
Ia percaya bahwa wisata adalah jalan sunyi yang penuh cermin. “Ketika kita jalan ke desa lain, kita seperti mengunjungi potongan jiwa Indonesia yang lain. Kita belajar rendah hati, belajar melihat bahwa yang berbeda bukan berarti salah.”
Artikel Terkait
Bianglala jadi wahana favorit baru pengunjung Flora Wisata D’Castello, Guntara : Berkat dorongan pemerintah dan teman-teman media
Menparekraf Sandiaga Uno kunjungi Desa Cisaat dan serahkan penghargaan Desa Wisata Cisaat masuk ke dalam Top 50 Desa Wisata ADWI 2024
Rayakan liburan tahun baru, ini rekomendasi wisata di sekitar ruas tol ASTRA Infra
Ayo-Promedia gelar touring ke Rancabuaya! intip 3 fakta wisata pantai eksotis di Garut yang diidamkan wisatawan
‘Sabtu Bersama Kang Rey’: Strategi wisata Bupati Subang gaet PAD dan investasi
D'Castello dorong wisata ramah lingkungan lewat aksi tanam 1.000 pohon di Ciater
Rekomendasi 5 destinasi wisata bertema Buddha untuk libur Waisak 2025