ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

“AI bisa tahu kamu suka sunset. Tapi hanya manusia yang bisa tahu kenapa kamu menangis saat melihatnya,” ujarnya.

Virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) pun kini mulai digunakan. Turis bisa menjelajah Borobudur lewat ponsel sebelum datang langsung. Museum bisa menghadirkan sejarah lewat pengalaman imersif.

Tapi di setiap inovasi itu, prinsipnya tetap sama: jangan sampai teknologi menjadi pengganti interaksi, melainkan pengantar rasa penasaran yang membawa orang untuk bertemu langsung.

Baca Juga: BCA resmi jadi penyalur FLPP, Menteri PKP optimis target 3 juta rumah tercapai

Bagi Hariyanto, teknologi adalah pintu, bukan ruang tamu. Ia membuka jalan, tapi yang menyambut tetap manusia.

Dan di dunia yang makin tenggelam dalam gawai, ia percaya: senyum hangat, cerita lisan, dan kehadiran nyata akan jadi komoditas langka yang paling dicari.

“Teknologi harus memperkuat empati,” katanya. “Kalau tidak, kita hanya akan punya pameran digital dari negeri yang sudah lupa cara menyambut tamu.”

6. Refleksi: Siapa yang sebenarnya butuh wisata?

Ketika saya menutup buku catatan dan memandang ke luar jendela ruang kerja Hariyanto, awan Jakarta menggantung rendah seperti menggoda satu pertanyaan terakhir.

Maka saya ajukan—bukan dalam bentuk strategi atau angka, tapi dalam bentuk perenungan: "Menurut Bapak, siapa yang sebenarnya butuh wisata?"

Baca Juga: PT Dahana serahkan bantuan sarana pendidikan untuk sekolah di Subang, dukung pendidikan berkualitas

Hariyanto diam sejenak, lalu menjawab dengan lirih, nyaris seperti menjawab dirinya sendiri, “Kita semua.”

Pertama, kata beliau, wisata bukan hanya soal rekreasi atau pengeluaran uang. Wisata adalah ruang jeda—tempat manusia berhenti sejenak dari rutinitas, dari layar, dari berita buruk, dan dari segala tekanan hidup.

Tapi lebih dari itu, wisata adalah proses mengenali diri lewat orang lain, dan mengenali negeri lewat warganya.

Ia percaya bahwa wisata adalah jalan sunyi yang penuh cermin. “Ketika kita jalan ke desa lain, kita seperti mengunjungi potongan jiwa Indonesia yang lain. Kita belajar rendah hati, belajar melihat bahwa yang berbeda bukan berarti salah.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X