“Perubahan itu,” kata Hariyanto, “membuat kami sadar: pariwisata bukan sekadar produk, melainkan hubungan sosial.”
Di tengah gempuran industri global dan budaya instan, Indonesia memilih arah unik: membangun kembali dari simpul-simpul sosialnya.
Ini adalah pelajaran bahwa trauma bisa jadi titik awal. Dan pemulihan tak hanya soal uang atau infrastruktur, tapi soal martabat dan tata nilai.
Kisah ini menjadi titik berangkat dari pendekatan pariwisata Indonesia pasca 2002. Bukan lagi hanya menjual panorama dan eksotisme, tapi menawarkan pengalaman yang manusiawi.
Baca Juga: Usulan perpanjangan usia pensiun ASN hingga 70 tahun, Komisi II DPR: Belum mendesak
Karena turis sejatinya datang bukan untuk sekadar melihat, tapi untuk merasa: disambut, dimuliakan, dimanusiakan.
Hariyanto menyebut tragedi itu sebagai 'kursus kilat kemanusiaan.' Ia mengenang bagaimana anak-anak muda Bali belajar menyambut dengan lebih ramah, bagaimana pemilik penginapan kecil tak lagi mengeluh soal 'bule yang tak datang,' tapi bersyukur pada keluarga dari Solo yang menginap dua malam.
Peristiwa itu menandai titik balik, yang kemudian menjadi landasan arah baru: wisata berbasis nilai. Dan nilai yang utama, menurut Hariyanto, adalah kesetaraan.
Hari ini, ketika ia berbicara tentang pembangunan destinasi, ia selalu kembali pada cerita itu. Bagi dia, puncak pembangunan bukanlah bandara megah atau hotel bintang lima.
Baca Juga: Diskon listrik 50 persen kembali berlaku mulai 5 Juni, ini daftar penerimanya
Tapi saat seorang ibu di desa menyambut turis—entah dari Jerman atau dari Blitar—dengan air putih, makanan hangat, dan senyum yang jujur.
“Kalau kita sudah bisa menghargai setiap tamu, tanpa lihat warna kulit atau bahasa, di situlah pariwisata Indonesia jadi kuat,” ujarnya.
Bali 2002 mengajarkan kita: tempat bisa rusak, tapi nilai bisa menyelamatkan. Dan dari luka itulah, kita belajar membangun—bukan hanya infrastruktur, tapi cara kita memandang orang lain.
2. Quality over quantity: Dari angka ke pengalaman
Di sebuah pertemuan teknokratik yang biasanya kaku, Hariyanto pernah membalikkan suasana hanya dengan satu pertanyaan: “Apakah Anda ingat wajah dari tempat terakhir yang Anda kunjungi, atau hanya jumlah follower yang menyukai fotonya?”
Artikel Terkait
Bianglala jadi wahana favorit baru pengunjung Flora Wisata D’Castello, Guntara : Berkat dorongan pemerintah dan teman-teman media
Menparekraf Sandiaga Uno kunjungi Desa Cisaat dan serahkan penghargaan Desa Wisata Cisaat masuk ke dalam Top 50 Desa Wisata ADWI 2024
Rayakan liburan tahun baru, ini rekomendasi wisata di sekitar ruas tol ASTRA Infra
Ayo-Promedia gelar touring ke Rancabuaya! intip 3 fakta wisata pantai eksotis di Garut yang diidamkan wisatawan
‘Sabtu Bersama Kang Rey’: Strategi wisata Bupati Subang gaet PAD dan investasi
D'Castello dorong wisata ramah lingkungan lewat aksi tanam 1.000 pohon di Ciater
Rekomendasi 5 destinasi wisata bertema Buddha untuk libur Waisak 2025