ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

“Perubahan itu,” kata Hariyanto, “membuat kami sadar: pariwisata bukan sekadar produk, melainkan hubungan sosial.”

Di tengah gempuran industri global dan budaya instan, Indonesia memilih arah unik: membangun kembali dari simpul-simpul sosialnya.

Ini adalah pelajaran bahwa trauma bisa jadi titik awal. Dan pemulihan tak hanya soal uang atau infrastruktur, tapi soal martabat dan tata nilai.

Kisah ini menjadi titik berangkat dari pendekatan pariwisata Indonesia pasca 2002. Bukan lagi hanya menjual panorama dan eksotisme, tapi menawarkan pengalaman yang manusiawi.

Baca Juga: Usulan perpanjangan usia pensiun ASN hingga 70 tahun, Komisi II DPR: Belum mendesak

Karena turis sejatinya datang bukan untuk sekadar melihat, tapi untuk merasa: disambut, dimuliakan, dimanusiakan.

Hariyanto menyebut tragedi itu sebagai 'kursus kilat kemanusiaan.' Ia mengenang bagaimana anak-anak muda Bali belajar menyambut dengan lebih ramah, bagaimana pemilik penginapan kecil tak lagi mengeluh soal 'bule yang tak datang,' tapi bersyukur pada keluarga dari Solo yang menginap dua malam.

Peristiwa itu menandai titik balik, yang kemudian menjadi landasan arah baru: wisata berbasis nilai. Dan nilai yang utama, menurut Hariyanto, adalah kesetaraan.

Hari ini, ketika ia berbicara tentang pembangunan destinasi, ia selalu kembali pada cerita itu. Bagi dia, puncak pembangunan bukanlah bandara megah atau hotel bintang lima.

Baca Juga: Diskon listrik 50 persen kembali berlaku mulai 5 Juni, ini daftar penerimanya

Tapi saat seorang ibu di desa menyambut turis—entah dari Jerman atau dari Blitar—dengan air putih, makanan hangat, dan senyum yang jujur.

“Kalau kita sudah bisa menghargai setiap tamu, tanpa lihat warna kulit atau bahasa, di situlah pariwisata Indonesia jadi kuat,” ujarnya.

Bali 2002 mengajarkan kita: tempat bisa rusak, tapi nilai bisa menyelamatkan. Dan dari luka itulah, kita belajar membangun—bukan hanya infrastruktur, tapi cara kita memandang orang lain.

2. Quality over quantity: Dari angka ke pengalaman

Di sebuah pertemuan teknokratik yang biasanya kaku, Hariyanto pernah membalikkan suasana hanya dengan satu pertanyaan: “Apakah Anda ingat wajah dari tempat terakhir yang Anda kunjungi, atau hanya jumlah follower yang menyukai fotonya?”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X