ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

Baca Juga: Simon Tahamata ditunjuk jadi kepala pemandu bakat PSSI, ini tugas dan targetnya

Ruangan mendadak sunyi, lalu perlahan orang mulai tersenyum. Karena pertanyaan itu, meski ringan, menggugah inti dari paradigma baru yang sedang coba dibangun Kemenpar: bahwa pengalaman jauh lebih berarti dari angka.

Sejak 2020, pandemi telah merombak cara manusia bepergian. Turisme massal, yang dulu jadi tolok ukur kesuksesan—berapa juta orang yang datang, berapa miliar yang dibelanjakan—tiba-tiba terasa rapuh.

Pariwisata jadi sektor yang pertama kali tumbang dan terakhir bangkit. Tapi dari reruntuhan itu, sebuah peluang lahir: membangun ulang, bukan sekadar dengan target kuantitatif, tapi dengan filosofi.

“Quality tourism bukan jargon,” tegas Hariyanto. “Itu strategi. Itu niat untuk tidak lagi mengejar angka semata, melainkan membangun relasi, ekosistem, dan nilai jangka panjang.”

Baca Juga: IFG dukung Job Fair 2025 gagasan Kemnaker, dorong talenta muda untuk Indonesia Emas 2045

Ia berbicara dengan gairah ketika menjelaskan bagaimana sektor ini kini diarahkan untuk menyentuh tiga pilar utama: keberlanjutan lingkungan, pelibatan komunitas, dan peningkatan kualitas pengalaman wisatawan.

Di bawah visi Presiden Prabowo, pemerintah menargetkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB sebesar 4,6 persen pada 2025, dan USD 34 miliar devisa pada 2029. Namun angka-angka itu, katanya, hanya kulit luar.

Yang menjadi jiwa kebijakan ini adalah perubahan cara berpikir: dari membangun tempat, menjadi membangun makna.

Contohnya adalah pendekatan pada wisata bahari. Dulu, lokasi diving hanya jadi daftar spot dalam brosur. Kini, setiap titik selam dikaji nilai konservasinya, diawasi keberlanjutan terumbu karangnya, dan komunitas lokalnya diberdayakan sebagai pemandu bersertifikat.

Baca Juga: Kemenag: 131.200 jemaah haji Indonesia telah terima kartu nusuk, pendistribusian diminta dipercepat

“Kami ingin wisatawan pulang membawa pengalaman spiritual, bukan hanya hasil jepretan kamera underwater,” ujarnya.

Hal serupa diterapkan pada gastronomi. Makanan bukan sekadar pelengkap, tapi narasi budaya.

Pemerintah mendorong pelatihan kuliner tradisional, promosi makanan lokal di festival internasional, dan integrasi kisah-kisah rakyat ke dalam penyajian. Wisatawan tak hanya kenyang—mereka paham.

Maka tak heran jika kini pendekatan Kemenpar terasa sangat berbeda. Dalam penilaian program, hal-hal seperti durasi tinggal, interaksi dengan masyarakat, hingga tingkat kepuasan terhadap keramahan lokal menjadi indikator penting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X