Namun bagi Hariyanto, nilai program ini tak berhenti pada data. Ia bercerita tentang satu desa di Sulawesi yang dahulu tak punya sinyal internet dan kini justru menjadi destinasi bagi digital nomad karena keunikan budaya dan keramahan warganya.
Tentang anak muda yang pulang dari kota bukan untuk mencari kerja, tapi untuk membuka paket wisata. Tentang ibu-ibu yang dulunya hanya menjahit untuk tetangga, kini produknya masuk ke etalase bandara.
Baca Juga: Jan Hwa Diana ditetapkan tersangka, kasus penahanan ijazah karyawan CV Sentoso Seal makin rumit
“Desa itu laboratorium masa depan,” ujarnya. “Di sana kita bisa uji coba pariwisata regeneratif—yang menjaga budaya, memberdayakan ekonomi, dan melindungi lingkungan.”
Salah satu transformasi kunci yang kini didorong adalah konversi Pokdarwis menjadi koperasi wisata. Ini bukan sekadar pengubahan bentuk kelembagaan, tetapi penguatan struktur ekonomi.
Sebuah Pokdarwis biasanya berbasis semangat gotong royong, tapi tanpa model bisnis yang kuat, mereka sering rentan terhadap ketergantungan dana hibah.
Dengan menjadi koperasi, mereka bisa mengakses pembiayaan, membentuk unit usaha, dan memberikan dividen ke anggota.
Namun tantangan terbesar, kata Hariyanto, tetaplah soal pola pikir. “Masih banyak yang menganggap desa itu tempat menunggu bantuan. Kami ajak mereka untuk jadi kreator, bukan penerima.”
Baca Juga: Gempa magnitudo 6,3 guncang Bengkulu, puluhan rumah rusak, warga mengungsi
Itu sebabnya, selain infrastruktur dan promosi, program pendampingan jadi kunci. Pelatihan literasi digital, manajemen keuangan, pembuatan paket wisata, hingga storytelling budaya dilakukan hampir setiap bulan.
Dan semua itu diarahkan bukan untuk membentuk desa menjadi replika kota, melainkan agar desa tetap menjadi dirinya—dengan keaslian dan keunikannya.
Baginya, desa tak boleh kehilangan identitas hanya demi mengejar estetika turisme. “Kalau kamu sulap desa jadi seperti resort, kamu hanya dapat wisatawan, tapi kehilangan jiwa,” katanya tajam.
Di akhir percakapan kami tentang desa, ia mengambil ponsel dan memperlihatkan foto: seorang kakek sedang memandu wisatawan menyusuri sawah, sambil bercerita tentang legenda lokal.
Baca Juga: Jennifer Coppen minta warganet stop asumsi soal unfollow dengan Zoe Wassink: Nanti juga baikan
“Ini bukan aktor. Ini tokoh nyata. Dan inilah pariwisata yang saya perjuangkan—di mana warga menjadi pencerita, bukan dekorasi.”
Artikel Terkait
Bianglala jadi wahana favorit baru pengunjung Flora Wisata D’Castello, Guntara : Berkat dorongan pemerintah dan teman-teman media
Menparekraf Sandiaga Uno kunjungi Desa Cisaat dan serahkan penghargaan Desa Wisata Cisaat masuk ke dalam Top 50 Desa Wisata ADWI 2024
Rayakan liburan tahun baru, ini rekomendasi wisata di sekitar ruas tol ASTRA Infra
Ayo-Promedia gelar touring ke Rancabuaya! intip 3 fakta wisata pantai eksotis di Garut yang diidamkan wisatawan
‘Sabtu Bersama Kang Rey’: Strategi wisata Bupati Subang gaet PAD dan investasi
D'Castello dorong wisata ramah lingkungan lewat aksi tanam 1.000 pohon di Ciater
Rekomendasi 5 destinasi wisata bertema Buddha untuk libur Waisak 2025