ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

Namun bagi Hariyanto, nilai program ini tak berhenti pada data. Ia bercerita tentang satu desa di Sulawesi yang dahulu tak punya sinyal internet dan kini justru menjadi destinasi bagi digital nomad karena keunikan budaya dan keramahan warganya.

Tentang anak muda yang pulang dari kota bukan untuk mencari kerja, tapi untuk membuka paket wisata. Tentang ibu-ibu yang dulunya hanya menjahit untuk tetangga, kini produknya masuk ke etalase bandara.

Baca Juga: Jan Hwa Diana ditetapkan tersangka, kasus penahanan ijazah karyawan CV Sentoso Seal makin rumit

“Desa itu laboratorium masa depan,” ujarnya. “Di sana kita bisa uji coba pariwisata regeneratif—yang menjaga budaya, memberdayakan ekonomi, dan melindungi lingkungan.”

Salah satu transformasi kunci yang kini didorong adalah konversi Pokdarwis menjadi koperasi wisata. Ini bukan sekadar pengubahan bentuk kelembagaan, tetapi penguatan struktur ekonomi.

Sebuah Pokdarwis biasanya berbasis semangat gotong royong, tapi tanpa model bisnis yang kuat, mereka sering rentan terhadap ketergantungan dana hibah.

Dengan menjadi koperasi, mereka bisa mengakses pembiayaan, membentuk unit usaha, dan memberikan dividen ke anggota.

Namun tantangan terbesar, kata Hariyanto, tetaplah soal pola pikir. “Masih banyak yang menganggap desa itu tempat menunggu bantuan. Kami ajak mereka untuk jadi kreator, bukan penerima.”

Baca Juga: Gempa magnitudo 6,3 guncang Bengkulu, puluhan rumah rusak, warga mengungsi

Itu sebabnya, selain infrastruktur dan promosi, program pendampingan jadi kunci. Pelatihan literasi digital, manajemen keuangan, pembuatan paket wisata, hingga storytelling budaya dilakukan hampir setiap bulan.

Dan semua itu diarahkan bukan untuk membentuk desa menjadi replika kota, melainkan agar desa tetap menjadi dirinya—dengan keaslian dan keunikannya.

Baginya, desa tak boleh kehilangan identitas hanya demi mengejar estetika turisme. “Kalau kamu sulap desa jadi seperti resort, kamu hanya dapat wisatawan, tapi kehilangan jiwa,” katanya tajam.

Di akhir percakapan kami tentang desa, ia mengambil ponsel dan memperlihatkan foto: seorang kakek sedang memandu wisatawan menyusuri sawah, sambil bercerita tentang legenda lokal.

Baca Juga: Jennifer Coppen minta warganet stop asumsi soal unfollow dengan Zoe Wassink: Nanti juga baikan

“Ini bukan aktor. Ini tokoh nyata. Dan inilah pariwisata yang saya perjuangkan—di mana warga menjadi pencerita, bukan dekorasi.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X