Baca Juga: Viral video 9 calon haji Indonesia diduga terlantar di Makkah, ini klarifikasi Kemenag
Keberhasilan destinasi tidak diukur dari seberapa cepat penuh saat libur panjang, tetapi seberapa sering orang ingin kembali meski tak ada promosi.
“Kalau tempatmu bisa membuat orang menyesal saat meninggalkan, itu baru destinasi,” ujar Hariyanto, sambil tertawa kecil.
Bagi dia, kualitas bukan soal eksklusivitas. “Quality tourism bukan hanya untuk turis asing yang bayar mahal. Bahkan wisatawan lokal pun berhak mendapat pengalaman terbaik, terhormat, dan berarti.”
Dan dalam pengalamannya, wisatawan yang bahagia tak selalu bicara soal fasilitas. Mereka bicara tentang percakapan hangat dengan penjaga museum tua. Tentang sarapan pagi di dapur warga. Tentang mendengar cerita masa kecil dari pemilik homestay.
Baca Juga: Pemerintahan Trump larang Harvard terima mahasiswa asing, ijazah dan visa terancam
Semua itu, katanya, adalah investasi paling berharga dalam pembangunan destinasi: keintiman yang tak bisa dinilai dengan grafik atau grafik Excel.
3. Desa, titik pijak dan titik lompat
Ketika saya menyebut kata 'desa,' Hariyanto tak menunggu lama untuk merespons. “Desa adalah tempat kita kembali dan tempat Indonesia bisa melompat,” katanya, sambil menekankan bahwa masa depan pariwisata Indonesia bukan di kota besar atau megaproyek reklamasi, melainkan di lorong-lorong kecil yang penuh cerita dan senyum jujur.
Dalam berbagai forum nasional, ia tidak bosan menyerukan satu gagasan penting: bahwa desa bukan hanya latar belakang eksotisme, tapi aktor utama pembangunan.
“Kalau kamu ingin tahu wajah Indonesia yang sesungguhnya, pergilah ke desa,” ujarnya.
“Di sana kita bisa menemukan bukan hanya keindahan, tapi makna.”
Baca Juga: Gempa M 6,3 guncang Bengkulu, 100 rumah rusak dan Pemprov janji bangun kembali
Program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) menjadi bukti konkret dari keyakinan itu. Sejak diluncurkan, ADWI bukan hanya kompetisi. Ia adalah katalis—pemicu kebangkitan ekonomi lokal yang berbasis budaya dan keterlibatan warga.
Dari ribuan desa yang mendaftar, ratusan telah dibina, dilatih, bahkan difasilitasi untuk masuk ke dalam ekosistem digital pariwisata nasional.
Artikel Terkait
Bianglala jadi wahana favorit baru pengunjung Flora Wisata D’Castello, Guntara : Berkat dorongan pemerintah dan teman-teman media
Menparekraf Sandiaga Uno kunjungi Desa Cisaat dan serahkan penghargaan Desa Wisata Cisaat masuk ke dalam Top 50 Desa Wisata ADWI 2024
Rayakan liburan tahun baru, ini rekomendasi wisata di sekitar ruas tol ASTRA Infra
Ayo-Promedia gelar touring ke Rancabuaya! intip 3 fakta wisata pantai eksotis di Garut yang diidamkan wisatawan
‘Sabtu Bersama Kang Rey’: Strategi wisata Bupati Subang gaet PAD dan investasi
D'Castello dorong wisata ramah lingkungan lewat aksi tanam 1.000 pohon di Ciater
Rekomendasi 5 destinasi wisata bertema Buddha untuk libur Waisak 2025