ESAI: Destinasi bernama ramah, Hariyanto dan siasat menyusun wajah wisata Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 22:54 WIB
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)
Doddi Ahmad Fauji, sastrawan cum wartawan (kiri) bersama Hariyanto (kanan)

Baca Juga: Viral video 9 calon haji Indonesia diduga terlantar di Makkah, ini klarifikasi Kemenag

Keberhasilan destinasi tidak diukur dari seberapa cepat penuh saat libur panjang, tetapi seberapa sering orang ingin kembali meski tak ada promosi.

“Kalau tempatmu bisa membuat orang menyesal saat meninggalkan, itu baru destinasi,” ujar Hariyanto, sambil tertawa kecil.

Bagi dia, kualitas bukan soal eksklusivitas. “Quality tourism bukan hanya untuk turis asing yang bayar mahal. Bahkan wisatawan lokal pun berhak mendapat pengalaman terbaik, terhormat, dan berarti.”

Dan dalam pengalamannya, wisatawan yang bahagia tak selalu bicara soal fasilitas. Mereka bicara tentang percakapan hangat dengan penjaga museum tua. Tentang sarapan pagi di dapur warga. Tentang mendengar cerita masa kecil dari pemilik homestay.

Baca Juga: Pemerintahan Trump larang Harvard terima mahasiswa asing, ijazah dan visa terancam

Semua itu, katanya, adalah investasi paling berharga dalam pembangunan destinasi: keintiman yang tak bisa dinilai dengan grafik atau grafik Excel.

3. Desa, titik pijak dan titik lompat

Ketika saya menyebut kata 'desa,' Hariyanto tak menunggu lama untuk merespons. “Desa adalah tempat kita kembali dan tempat Indonesia bisa melompat,” katanya, sambil menekankan bahwa masa depan pariwisata Indonesia bukan di kota besar atau megaproyek reklamasi, melainkan di lorong-lorong kecil yang penuh cerita dan senyum jujur.

Dalam berbagai forum nasional, ia tidak bosan menyerukan satu gagasan penting: bahwa desa bukan hanya latar belakang eksotisme, tapi aktor utama pembangunan.

“Kalau kamu ingin tahu wajah Indonesia yang sesungguhnya, pergilah ke desa,” ujarnya.

“Di sana kita bisa menemukan bukan hanya keindahan, tapi makna.”

Baca Juga: Gempa M 6,3 guncang Bengkulu, 100 rumah rusak dan Pemprov janji bangun kembali

Program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) menjadi bukti konkret dari keyakinan itu. Sejak diluncurkan, ADWI bukan hanya kompetisi. Ia adalah katalis—pemicu kebangkitan ekonomi lokal yang berbasis budaya dan keterlibatan warga.

Dari ribuan desa yang mendaftar, ratusan telah dibina, dilatih, bahkan difasilitasi untuk masuk ke dalam ekosistem digital pariwisata nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X