ESAI: Titikan di Galeri Indigo, catatan tentang seni rupa, anak, dan kemerdekaan berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 25 Januari 2026 | 19:19 WIB
Fileski Walidha Tanjung, penulis
Fileski Walidha Tanjung, penulis

Baca Juga: Ki Maher: Bencana tak lagi bisa diprediksi, saatnya manusia kembali menjaga alam

Awarding Ceremony kemudian menjadi penanda kenaikan level pembelajaran di Sekolah Seni Rupa Titikan. Dua puluh empat peserta Ujian Tingkat Basic, berusia 3 hingga 15 tahun, dinyatakan lulus dan menerima piala serta sertifikat.

Tiga karya terbaik diraih oleh Elea sebagai juara terbaik ketiga, Ganis sebagai juara terbaik kedua, dan Zaza sebagai juara terbaik pertama.

Enam belas peserta Ujian Tingkat Menengah, berusia 5 hingga 15 tahun, juga dinyatakan lulus, dengan karya terbaik diraih oleh Adifa, Dinda, dan Syahla.

Namun bagi saya, penghargaan ini bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, melainkan tentang keberanian setiap anak untuk menyelesaikan proses kreatifnya sendiri.

Baca Juga: Ratusan aktivis dan budayawan soroti krisis lingkungan nasional dalam Gunem Alam di Sumedang

Para pengajar Sekolah Titikan adalah akademisi seni rupa, Dwi Kartika Rahayu sebagai pendiri dan pengajar kelas, Shalihah Ramadhanita di bidang litbang dan pengajar, Alfina Zalfa sebagai kepala sekolah dan pengajar, serta Lintang Laili di bidang kreatif dan pengajar.

Mereka membawa visi yang jelas untuk mengembangkan seni rupa, khususnya di Madiun. Visi ini penting di tengah realitas pendidikan yang kerap mengukur kecerdasan anak dengan parameter tunggal. Di Titikan, keberagaman ekspresi justru dirawat.

Saya teringat ucapan Aristoteles, 'Tujuan pendidikan adalah menciptakan kebiasaan berpikir yang baik.' Seni rupa, dengan seluruh ketidakpastiannya, melatih kebiasaan itu.
Hadir saya di acara ini dengan kesadaran penuh sebagai seorang ayah.

Baca Juga: 82 Orang masih hilang usai longsor di Bandung Barat, kesaksian warga ungkap dentuman keras dari hulu

Saya mengantarkan anak saya, Huiga Tanjung Ramadan. Sebagai orang tua, saya tidak kecewa ketika Huiga belum mendapatkan predikat karya terbaik.

Saya justru bersyukur karena ia mendapatkan sesuatu yang lebih esensial. Di Sekolah Titikan, anak saya belajar bahwa seni bukan sekadar hasil akhir, tetapi proses memahami diri dan dunia.

Ia belajar melatih motorik halus, mengelola emosi, menumbuhkan kesabaran, dan mengambil keputusan estetik secara mandiri.

Seni rupa mengajarkan berpikir kritis sejak dini, karena setiap goresan adalah pilihan dan setiap warna adalah pernyataan sikap.

Baca Juga: Momen terakhir Lula Lahfah bersama Reza Arap, konten 'At Least' jadi kenangan terakhir sebelum wafat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X