Baca Juga: Ki Maher: Bencana tak lagi bisa diprediksi, saatnya manusia kembali menjaga alam
Awarding Ceremony kemudian menjadi penanda kenaikan level pembelajaran di Sekolah Seni Rupa Titikan. Dua puluh empat peserta Ujian Tingkat Basic, berusia 3 hingga 15 tahun, dinyatakan lulus dan menerima piala serta sertifikat.
Tiga karya terbaik diraih oleh Elea sebagai juara terbaik ketiga, Ganis sebagai juara terbaik kedua, dan Zaza sebagai juara terbaik pertama.
Enam belas peserta Ujian Tingkat Menengah, berusia 5 hingga 15 tahun, juga dinyatakan lulus, dengan karya terbaik diraih oleh Adifa, Dinda, dan Syahla.
Namun bagi saya, penghargaan ini bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, melainkan tentang keberanian setiap anak untuk menyelesaikan proses kreatifnya sendiri.
Baca Juga: Ratusan aktivis dan budayawan soroti krisis lingkungan nasional dalam Gunem Alam di Sumedang
Para pengajar Sekolah Titikan adalah akademisi seni rupa, Dwi Kartika Rahayu sebagai pendiri dan pengajar kelas, Shalihah Ramadhanita di bidang litbang dan pengajar, Alfina Zalfa sebagai kepala sekolah dan pengajar, serta Lintang Laili di bidang kreatif dan pengajar.
Mereka membawa visi yang jelas untuk mengembangkan seni rupa, khususnya di Madiun. Visi ini penting di tengah realitas pendidikan yang kerap mengukur kecerdasan anak dengan parameter tunggal. Di Titikan, keberagaman ekspresi justru dirawat.
Saya teringat ucapan Aristoteles, 'Tujuan pendidikan adalah menciptakan kebiasaan berpikir yang baik.' Seni rupa, dengan seluruh ketidakpastiannya, melatih kebiasaan itu.
Hadir saya di acara ini dengan kesadaran penuh sebagai seorang ayah.
Baca Juga: 82 Orang masih hilang usai longsor di Bandung Barat, kesaksian warga ungkap dentuman keras dari hulu
Saya mengantarkan anak saya, Huiga Tanjung Ramadan. Sebagai orang tua, saya tidak kecewa ketika Huiga belum mendapatkan predikat karya terbaik.
Saya justru bersyukur karena ia mendapatkan sesuatu yang lebih esensial. Di Sekolah Titikan, anak saya belajar bahwa seni bukan sekadar hasil akhir, tetapi proses memahami diri dan dunia.
Ia belajar melatih motorik halus, mengelola emosi, menumbuhkan kesabaran, dan mengambil keputusan estetik secara mandiri.
Seni rupa mengajarkan berpikir kritis sejak dini, karena setiap goresan adalah pilihan dan setiap warna adalah pernyataan sikap.
Baca Juga: Momen terakhir Lula Lahfah bersama Reza Arap, konten 'At Least' jadi kenangan terakhir sebelum wafat
Artikel Terkait
ESAI : Stop bullying! demi masa depan anak bangsa yang lebih cerah
ESAI : Anak seusia SMP dan perilaku kekerasan
Tangis ayah pecah di posko kesehatan Lhok Pungki, gendong anak sakit demi dapatkan obat
Sekjen Kemensos ungkap masalah kesehatan anak sekolah rakyat, dari gigi rusak hingga anemia
Cerita haru Sekjen Kemensos menjemput anak Sekolah Rakyat yang tinggal di pedalaman hutan Kalteng, rumahnya tak berlistrik
Layaknya waterboom, viral anak-anak Bekasi asyik main air di tengah banjir
Bupati Subang bagikan seragam sekolah gratis di Desa Cibalandong, fokus dukung pendidikan anak