ESAI: Titikan di Galeri Indigo, catatan tentang seni rupa, anak, dan kemerdekaan berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 25 Januari 2026 | 19:19 WIB
Fileski Walidha Tanjung, penulis
Fileski Walidha Tanjung, penulis

Kebanggaan saya bertambah ketika saya menemukan salah satu lukisan karya Huiga, yang kemudian saya pilih menjadi sampul buku puisi terbaru saya, berjudul 'Epistemologi Moksa Para Naga'.

Lukisan itu, dengan bahasa visualnya yang jujur dan liar, mewakili kegelisahan yang saya tulis dalam puisi-puisi saya, kegelisahan tentang pengetahuan, pembebasan, dan pencarian makna hidup.

Di titik ini, seni anak tidak lagi saya tempatkan sebagai karya yang belum matang, tetapi sebagai teks yang setara, mampu berdialog dengan sastra dan filsafat.

Pengalaman ini membuat saya merefleksikan masa kecil saya sendiri. Dulu, menggambar sering diajarkan dengan pola yang seragam.

Baca Juga: Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat, puluhan rumah tertimbun dan 8 warga meninggal dunia

Gunung harus berbentuk segitiga, matahari harus berada di pojok kertas, dan langit harus berwarna biru. Perbedaan dianggap kesalahan.

Penyeragaman ini, saya sadari kemudian, adalah bentuk kekerasan halus yang mematikan imajinasi.

Paulo Freire pernah menyatakan, 'Pendidikan yang menindas tidak akan pernah melahirkan manusia merdeka.' Sekolah Titikan, bagi saya, adalah antitesis dari pengalaman itu.

Saya melihat Sekolah Titikan tidak hanya mengajarkan teknik melukis, tetapi juga mengajarkan kemerdekaan berkarya.

Baca Juga: Bupati Subang bagikan seragam sekolah gratis di Desa Cibalandong, fokus dukung pendidikan anak

Anak-anak diberi ruang untuk salah, untuk berbeda, dan untuk menemukan bahasanya sendiri. Dari ruang-ruang seperti inilah saya yakin akan lahir perupa-perupa hebat dari Madiun.

Kisah Gangga, salah satu murid Titikan yang berusia empat tahun, telah menghasilkan seratus karya seni rupa dan diundang televisi nasional, menjadi penanda bahwa imajinasi anak-anak tidak pernah kecil, kitalah yang sering mengecilkannya.

Minggu pagi di Galeri Indigo itu meninggalkan saya dengan pertanyaan yang terus bergema.

Jika seni mampu menumbuhkan keberanian, empati, dan kebebasan berpikir sejak usia dini, mengapa ia masih sering dipinggirkan dalam sistem pendidikan kita?

Baca Juga: Rentetan pohon tumbang terjang Jalancagak–Ciater, polisi evakuasi cepat demi keselamatan warga

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X