ESAI : Stop bullying! demi masa depan anak bangsa yang lebih cerah

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 November 2023 | 20:21 WIB
Marsya Fadillah, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang
Marsya Fadillah, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang

"Dasar Hitam, gendut, pendek," tidak bisa dipungkiri bahwa cibiran seperti ini kerap didengar bukan hanya di lingkungan masyarakat akan tetapi di lingkungan sekolah entah itu dari siswa ataupun guru.

Meskipun ada sebagian orang menanggapinya biasa-biasa saja, dalam hati kecil terkadang bertanya “Apa yang salah dengan semua ini? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian seperti ini?”

Akhir-akhir ini kejadian yang paling populer di sekolah-sekolah adalah kasus bullying ataupun perundingan. Zaman dulu kasus bullying sering terdengar di kalangan siswa menengah pertama atau menengah atas.

Akan tetapi di zaman sekarang ini kasus bullying telah merambah ke sekolah dasar . Sering saya dengar khususnya tingkat sekolah dasar ialah mengejek, mengolok-olok nama orang tua.

Baca Juga: Jadi ketua DPAC Pejuang Siliwangi Kecamatan Dawuan, Syaepul Anwar, figur pemuda Desa Jambelaer yang berjuang pupuk untuk para petani

Kedengarannya sepele, tetapi hanya dengan menyebut nama orang tua saja bisa berujung perkelahian.

Kejadian lain yang biasa kita dapatkan di sekolah adalah adanya pelabelan dari guru terhadap siswa yang mungkin guru tersebut tidak memahami dampak dari label yang tidak baik terhadap siswa tersebut. Kejadian seperti itulah yang termasuk kategori perilaku perundungan.

Apakah perundungan itu? Lebih populer disebut bullying, perundungan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, suatu perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain menjadi tidak nyaman. Bullying merupakan suatu kejadian yang seringkali terjadi di sekolah.

Bullying seringkali terlihat sebagai bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ‘kuat’.

Baca Juga: Anggota DPRD Subang, Beni Rudiono gelar baksos bagikan ribuan gas dan minyak goreng bagi masyarakat yang membutuhkan

Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini biasanya terjadi di dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah.

Bullying tidak selalu berlangsung dengan cara berhadapan muka tapi dapat juga berlangsung di belakang teman.

Pada siswa laki-laki biasanya mereka memanggil temannya dengan sebutan yang jelek, meminta uang atau makanan dengan paksa atau menakut-nakuti siswa yang lebih muda usianya.

Sementara siswa perempuan biasanya melakukan tindakan memisahkan rekannya dari kelompok serta tindakan lainnya yang bertujuan menyisihkan individu lainnya dari grup dan peristiwanya sangat mungkin terjadi berulang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X