ESAI : Anak seusia SMP dan perilaku kekerasan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 6 Juni 2024 | 20:41 WIB
Ucu S.S, Pendidik dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Subang
Ucu S.S, Pendidik dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Subang

Keterlibatan anak seusia SMP dalam kegiatan kekerasan saat ini sangat marak. Beberapa peristiwa terkait hal ini banyak terjadi. 

Beberapa saat yang lalu, telah terjadi siswa sekolah menengah yang kemudian meninggal dunia akibat tindakan kekerasan. 

Sangat ironis memang, namun ini merupakan fenomena yang patut kita perhatikan lebih dan waspadai, baik oleh para orang tua maupun oleh pihak lainnya.   

Pada dasarnya usia anak SMP sangat rentan, karena anak seusia ini masuk ke dalam fase remaja awal.

Dimana pada fase ini anak berusia 13 sampai dengan 15 tahun cenderung mengalami masa ambivalensi, yakni kondisi di mana seseorang dalam keinginan antara bergaul atau menyendiri. 

Baca Juga: Rapat Paripurna DPRD bahas RPJPD Subang 2025-2045 dan tata cara pembentukan produk hukum daerah, ini nota pengantar Pj. Bupati atas 2 Raperda tersebut

Pada kondisi ini akan terlihat bagaimana kecenderungan seorang anak mulai mengisolasi diri atau bahkan bergaul dengan lebih terbuka dengan teman-temannya guna menyerap berbagai informasi dan perilaku

Tak hanya itu, kecenderungan untuk terlepas dari dominasi dan peran orang tuanya pun mulai terlihat. 

Anak mulai terlihat ingin bebas dari bantuan orang tua, peran atau hal-hal lain yang melibatkan orang tua mereka.

Tak heran anak seusia ini akan mencoba berbagai tindakan yang cenderung mereka lihat dari lingkungan keluarga, televisi, media online maupun teman-temannya. 

Dalam hal ini pengejawantahan dirinya sebagai bentuk eksistensi diri sangat mungkin terjadi. 

Baca Juga: 30 Tahun pengabdian, Alumni Akabri 1994 gelar baksos dan penanaman pohon mangrove di Pondok Bali Subang

Keinginan untuk mengekspresikan diri, mengaktualisasikan diri maupun ingin diakui oleh teman-temannya cenderung tinggi tanpa ada pemikiran jauh ke depan, baik efek positif maupun negatif.  

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa pada saat ini media online sebagai dunia lain dari anak seusia SMP menjadi tempat nyaman bagi mereka. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X