Ki Maher: Bencana tak lagi bisa diprediksi, saatnya manusia kembali menjaga alam

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 25 Januari 2026 | 16:11 WIB
Budayawan Garut, Ki Maher, menegaskan bahwa rangkaian bencana yang terjadi belakangan ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan tanda nyata terjadinya kerusakan ekologi akibat ulah manusia sendiri, Sabtu 24 Januari 2026
Budayawan Garut, Ki Maher, menegaskan bahwa rangkaian bencana yang terjadi belakangan ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan tanda nyata terjadinya kerusakan ekologi akibat ulah manusia sendiri, Sabtu 24 Januari 2026

GENMILENIAL.ID — Fenomena banjir, longsor, hingga perubahan cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi menjadi alarm keras bagi manusia untuk kembali menata hubungannya dengan alam.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda yang digelar di Gedung Negara Kabupaten Sumedang, Sabtu 24 Januari 2026. 

Budayawan asal Garut sekaligus panitia pelaksana kegiatan, Ki Maher, menegaskan bahwa rangkaian bencana yang terjadi belakangan ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan tanda nyata terjadinya kerusakan ekologi akibat ulah manusia sendiri.

Baca Juga: Ratusan aktivis dan budayawan soroti krisis lingkungan nasional dalam Gunem Alam di Sumedang

“Kita sedang menyaksikan banjir, longsor, dan hujan yang tidak bisa lagi diprediksi. Ini bukan sekadar musibah, tapi sudah menjadi pertanda adanya kerusakan ekologi yang serius,” ujar Ki Maher.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Manusia, kata dia, perlu kembali mempertanyakan relasi dengan alam yang selama ini telah memberi kehidupan.

“Alam itu mengasuh kita, memberi air, memberi udara, memberi kehidupan. Tapi ketika alam dirusak, maka dampaknya akan kembali kepada manusia,” katanya.

Baca Juga: 82 Orang masih hilang usai longsor di Bandung Barat, kesaksian warga ungkap dentuman keras dari hulu

Krisis alam dan krisis budaya

Ki Maher menilai, kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari lunturnya nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat.

Budaya yang dahulu mengajarkan harmoni dengan alam kini perlahan tergeser oleh pola hidup eksploitatif.

Menurutnya, masyarakat Sunda sejatinya memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga keseimbangan alam, mulai dari gunung, mata air, hingga sungai. Namun nilai-nilai itu mulai ditinggalkan.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal budaya. Ketika budaya menjaga alam ditinggalkan, maka kerusakan akan terus terjadi,” tegasnya.

Baca Juga: Momen terakhir Lula Lahfah bersama Reza Arap, konten 'At Least' jadi kenangan terakhir sebelum wafat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X