ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Memahami Konstruksi Sosial Realitas: Ilmu budaya membantu kita memahami bahwa narasi sejarah adalah konstruksi sosial, bukan cerminan murni dari realitas masa lalu.

Tone positif atau negatif adalah bagian dari strategi naratif untuk mencapai tujuan tertentu (Geertz, 1973; Said, 1978).

Empati Kultural dan Multiperspektif: Mempelajari antropologi, sosiologi, dan filsafat budaya memungkinkan sejarawan untuk mendekati masa lalu dengan empati kultural, mencoba memahami perspektif berbagai aktor sejarah, termasuk mereka yang menjadi 'korban' narasi dominan.

Ini mendorong pendekatan multiperspektif, di mana berbagai suara dan pengalaman diakui, bahkan jika mereka bertentangan.

Mendekonstruksi Hegemoni: Literasi ilmu budaya membekali kita dengan alat untuk mendekonstruksi hegemoni budaya yang terselubung dalam narasi sejarah.

Baca Juga: Qurban berdampak As-Syifa Peduli: 56 sapi, 432 domba, dan kebaikan yang menembus batas hingga Palestina

Ini termasuk mengidentifikasi bagaimana kekuasaan membentuk pengetahuan dan bagaimana stereotip diciptakan atau dipertahankan melalui penulisan sejarah.

Menghargai Kompleksitas: Pada akhirnya, literasi ilmu budaya mendorong kita untuk tidak terjebak dalam dikotomi biner 'baik vs. jahat' atau 'hitam vs. putih'.

Sejarah itu kompleks, penuh nuansa, dan seringkali tidak ada satu pun kebenaran mutlak. Mengakui bahwa ada aspek 'positif' (dari sudut pandang tertentu) dalam kolonialisme (misalnya, pengenalan sistem pendidikan modern) tidak berarti membenarkan kolonialisme, melainkan memahaminya sebagai fenomena multifaset yang memiliki dampak beragam (Bobo.id, 2024).

Demikian pula, mengakui kekurangan dalam narasi pahlawan nasional tidak mengurangi kepahlawanan mereka, tetapi membuat mereka lebih manusiawi dan dapat direplikasi.

Baca Juga: Politik kaum muda jadi kunci masa depan Subang, Pengamat: Saatnya milenial dan Gen Z tentukan arah

Kesimpulan

Tone positif dan tone negatif dalam historiografi kolonial dan Indonesia-sentris adalah manifestasi dari perjuangan panjang untuk mendefinisikan identitas dan memahami masa lalu.

Keduanya adalah produk dari zamannya dan memiliki tujuan politis-kultural masing-masing.

Melalui literasi ilmu budaya, kita dapat secara kritis membongkar bias yang melekat pada setiap narasi, memahami bagaimana budaya membentuk cara kita memandang sejarah, dan akhirnya, membangun narasi sejarah Indonesia yang lebih berimbang, inklusif, dan reflektif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X