Penulisan sejarah, alih-alih sekadar pencatatan fakta, adalah sebuah proses interpretasi yang melibatkan pilihan sadar seorang sejarawan dalam menyusun narasi.
Di Indonesia, salah satu perdebatan paling menarik dalam historiografi adalah penggunaan tone positif dan tone negatif.
Dua pendekatan ini tidak hanya memengaruhi cara peristiwa disajikan, tetapi juga membentuk pemahaman kolektif bangsa tentang masa lalunya.
Elaborasi kritis berbasis epistemologi (filsafat ilmu pengetahuan) dan historiografi (metodologi penulisan sejarah) menjadi esensial untuk memahami implikasi dari pilihan tone ini.
Epistemologi: Subjektivitas, objektivitas, dan konstruksi realitas sejarah
Secara epistemologis, penulisan sejarah tidak pernah sepenuhnya objektif.
Sejarawan selalu membawa praanggapan, nilai, dan perspektifnya sendiri dalam proses penelitian dan penulisan.
Inilah yang disebut sebagai subjektivitas sejarawan. Namun, ini tidak berarti sejarah adalah fiksi.
Sejarawan berusaha mendekati objektivitas melalui verifikasi sumber, kritik internal dan eksternal, serta keterbukaan terhadap berbagai interpretasi.
Tone positif dalam sejarah cenderung menekankan keberhasilan, kepahlawanan, kemajuan, dan aspek-aspek yang membanggakan dari suatu peristiwa atau tokoh.
Ini sering kali bertujuan untuk membangun identitas nasional yang kuat, memupuk rasa bangga, dan memberikan inspirasi. Misalnya, narasi kemerdekaan yang heroik, atau pembangunan yang progresif di masa orde baru.
Epistemologisnya, tone positif seringkali memilih, menyeleksi, dan bahkan memprioritaskan bukti-bukti yang mendukung narasi yang diinginkan, sembari mengabaikan atau menyingkirkan bukti yang kontradiktif.
Artikel Terkait
Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA
Dualisme kepengurusan Yayasan WR Supratman, keluarga besar menolak pihak lain mengatasnamakan warisan sejarah
Sejarah peringatan Hari Buruh di Indonesia dan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah
Fakta sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Sempat dilarang di era orde baru
Fadli Zon tegaskan masyarakat tak perlu cemas soal penulisan sejarah nasional