ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Penulisan sejarah, alih-alih sekadar pencatatan fakta, adalah sebuah proses interpretasi yang melibatkan pilihan sadar seorang sejarawan dalam menyusun narasi.

Di Indonesia, salah satu perdebatan paling menarik dalam historiografi adalah penggunaan tone positif dan tone negatif.

Dua pendekatan ini tidak hanya memengaruhi cara peristiwa disajikan, tetapi juga membentuk pemahaman kolektif bangsa tentang masa lalunya.

Elaborasi kritis berbasis epistemologi (filsafat ilmu pengetahuan) dan historiografi (metodologi penulisan sejarah) menjadi esensial untuk memahami implikasi dari pilihan tone ini.

Baca Juga: Thariq Halilintar sambut kelahiran anak pertama, Ahmad Arash Omara: Akhirnya berada dalam pelukan kami

Epistemologi: Subjektivitas, objektivitas, dan konstruksi realitas sejarah

Secara epistemologis, penulisan sejarah tidak pernah sepenuhnya objektif.

Sejarawan selalu membawa praanggapan, nilai, dan perspektifnya sendiri dalam proses penelitian dan penulisan.

Inilah yang disebut sebagai subjektivitas sejarawan. Namun, ini tidak berarti sejarah adalah fiksi.

Sejarawan berusaha mendekati objektivitas melalui verifikasi sumber, kritik internal dan eksternal, serta keterbukaan terhadap berbagai interpretasi.

Tone positif dalam sejarah cenderung menekankan keberhasilan, kepahlawanan, kemajuan, dan aspek-aspek yang membanggakan dari suatu peristiwa atau tokoh.

Baca Juga: Lantik 111 pejabat di jalan rusak, Kang Rey tegaskan: Jabatan adalah amanah, ASN harus melayani rakyat

Ini sering kali bertujuan untuk membangun identitas nasional yang kuat, memupuk rasa bangga, dan memberikan inspirasi. Misalnya, narasi kemerdekaan yang heroik, atau pembangunan yang progresif di masa orde baru.

Epistemologisnya, tone positif seringkali memilih, menyeleksi, dan bahkan memprioritaskan bukti-bukti yang mendukung narasi yang diinginkan, sembari mengabaikan atau menyingkirkan bukti yang kontradiktif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X