ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Narasi ini sering menggunakan tone positif untuk menggambarkan perjuangan melawan kolonialisme, kepahlawanan para pendiri bangsa, dan kesuksesan pembangunan.

Baca Juga: Pasca-Serangan Israel ke Iran, KBRI Teheran imbau WNI tingkatkan kewaspadaan dan hindari daerah rawan

Periode Orde Baru, misalnya, sangat gigih dalam mempromosikan narasi pembangunan yang serba berhasil dan stabil, dengan menghilangkan atau meminimalkan aspek-aspek negatif seperti pelanggaran HAM atau korupsi (Bourchier, 2015).

Ini adalah contoh bagaimana sejarah digunakan sebagai alat legitimasi politik dan pendidikan moral yang kuat.

Kelemahannya adalah kecenderungan untuk melakukan omission (penghilangan fakta) atau commission (penambahan fakta yang bias), yang pada akhirnya dapat menghasilkan narasi yang parsial atau bahkan anachronistic (memaksa kerangka pikir masa kini pada masa lalu).

Historiografi Ber-Tone Negatif lebih banyak menampilkan kontra-narasi kekuasaan dan dominasi kritik.

Seiring dengan perkembangan pemikiran dan terbukanya akses informasi, terutama pasca-Orde Baru, munculah kontra-narasi yang sering menggunakan tone negatif.

Baca Juga: Jokowi akui kantongi dukungan jadi Ketum PSI, tapi nilai masih belum cukup

Ini adalah respons terhadap narasi dominan yang dianggap terlalu menyederhanakan, atau bahkan menyembunyikan sisi gelap sejarah.

Gerakan ini didorong oleh akademisi kritis, aktivis HAM, dan sejarawan yang ingin memberikan 'suara' kepada kelompok-kelompok yang sebelumnya termarjinalkan (misalnya korban kekerasan politik, minoritas).

Contohnya adalah studi tentang peristiwa 1965 (Roosa, 2006; Cribb, 2001), peran militer dalam politik, atau kritik terhadap kebijakan ekonomi tertentu yang menimbulkan ketidakadilan.

Fungsi sosial dari historiografi ber-tone negatif adalah sebagai kontrol sosial, pengingat akan bahaya kekuasaan yang absolut, dan pemicu refleksi untuk perbaikan masa depan.

Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar kritik tersebut tetap berbasis bukti kuat dan tidak terjebak dalam tendensi 'menghakimi' masa lalu tanpa mempertimbangkan kompleksitas konteks zamannya.

Baca Juga: 4 Fakta terkini skandal laptop Chromebook Rp9,9 triliun: Nadiem siap diperiksa, klaim libatkan Kejagung sejak awal

Sejarawan kontemporer di Indonesia seringkali mencoba untuk bergerak melampaui dikotomi biner antara tone positif dan negatif, menuju sebuah sejarah yang lebih berimbang dan kompleks.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X