Narasi ini sering menggunakan tone positif untuk menggambarkan perjuangan melawan kolonialisme, kepahlawanan para pendiri bangsa, dan kesuksesan pembangunan.
Periode Orde Baru, misalnya, sangat gigih dalam mempromosikan narasi pembangunan yang serba berhasil dan stabil, dengan menghilangkan atau meminimalkan aspek-aspek negatif seperti pelanggaran HAM atau korupsi (Bourchier, 2015).
Ini adalah contoh bagaimana sejarah digunakan sebagai alat legitimasi politik dan pendidikan moral yang kuat.
Kelemahannya adalah kecenderungan untuk melakukan omission (penghilangan fakta) atau commission (penambahan fakta yang bias), yang pada akhirnya dapat menghasilkan narasi yang parsial atau bahkan anachronistic (memaksa kerangka pikir masa kini pada masa lalu).
Historiografi Ber-Tone Negatif lebih banyak menampilkan kontra-narasi kekuasaan dan dominasi kritik.
Seiring dengan perkembangan pemikiran dan terbukanya akses informasi, terutama pasca-Orde Baru, munculah kontra-narasi yang sering menggunakan tone negatif.
Baca Juga: Jokowi akui kantongi dukungan jadi Ketum PSI, tapi nilai masih belum cukup
Ini adalah respons terhadap narasi dominan yang dianggap terlalu menyederhanakan, atau bahkan menyembunyikan sisi gelap sejarah.
Gerakan ini didorong oleh akademisi kritis, aktivis HAM, dan sejarawan yang ingin memberikan 'suara' kepada kelompok-kelompok yang sebelumnya termarjinalkan (misalnya korban kekerasan politik, minoritas).
Contohnya adalah studi tentang peristiwa 1965 (Roosa, 2006; Cribb, 2001), peran militer dalam politik, atau kritik terhadap kebijakan ekonomi tertentu yang menimbulkan ketidakadilan.
Fungsi sosial dari historiografi ber-tone negatif adalah sebagai kontrol sosial, pengingat akan bahaya kekuasaan yang absolut, dan pemicu refleksi untuk perbaikan masa depan.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar kritik tersebut tetap berbasis bukti kuat dan tidak terjebak dalam tendensi 'menghakimi' masa lalu tanpa mempertimbangkan kompleksitas konteks zamannya.
Sejarawan kontemporer di Indonesia seringkali mencoba untuk bergerak melampaui dikotomi biner antara tone positif dan negatif, menuju sebuah sejarah yang lebih berimbang dan kompleks.
Artikel Terkait
Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA
Dualisme kepengurusan Yayasan WR Supratman, keluarga besar menolak pihak lain mengatasnamakan warisan sejarah
Sejarah peringatan Hari Buruh di Indonesia dan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah
Fakta sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Sempat dilarang di era orde baru
Fadli Zon tegaskan masyarakat tak perlu cemas soal penulisan sejarah nasional