ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 18:28 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

 

Bangsa yang besar tidak lahir dari ingatan yang pendek. Ia tumbuh dari kesadaran sejarah, dari generasi yang tahu bahwa tugas mereka bukan hanya mewarisi hasil perjuangan, tapi mewarisi semangat juangnya.

Seperti yang pernah dikatakan filsuf besar Gustav Mahler, “Tradisi bukan menyembah abu, tapi menjaga api.”

Maka menjadi manusia bernilai hari ini berarti menjadi penjaga api, bukan penyembah abu apalagi pemadamnya.

Baca Juga: Bupati Subang ajak wisudawan jadi agen perubahan, kampus diminta aktif bangun daerah

Indonesia dibangun dari nyala keberanian orang-orang yang tak takut menjadi berbeda, tak takut disingkirkan.

Soekarno mengguncang dunia dengan kalimat, 'Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.'

Yang ia maksud bukan pemuda yang hanya pandai berkata-kata, tapi mereka yang rela berjuang dalam senyap, dengan kerja nyata, dan keberpihakan kepada rakyat.

Dalam konteks Subang hari ini, pertanyaan itu menjadi sangat relevan: siapa yang akan menjaga apinya? Subang bukan lagi hanya wilayah agraris, ia berada dalam pusaran perubahan besar.

Baca Juga: Kampus dan pemerintah daerah diminta bersinergi, Universitas Subang didorong jadi motor inovasi lokal

Dari kawasan industri di Patimban, pembangunan jalan-jalan besar, hingga pertumbuhan penduduk usia produktif yang tak tertampung lapangan kerja.

Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga panggilan bagi generasi muda untuk mengambil peran, berkontribusi, dan bersuara. Bukan jadi beban pembangunan, tapi penggeraknya.

Sastrawan W.S. Rendra pernah menulis, “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala.” Maka, untuk melangkah dalam peradaban hari ini, dibutuhkan ketiganya.

Kesadaran bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja, kesabaran untuk tetap bekerja saat hasil belum terlihat, dan keberanian untuk melawan arus pragmatisme, apatisme, dan kepentingan pribadi yang menyamar dalam jargon perjuangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X