ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Elaborasi kritis berbasis literasi ilmu budaya menjadi krusial untuk membongkar bias-bias yang melekat.

1. Historiografi Kolonial: Tone positif untuk penjajah, tone negatif untuk pribumi

Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang dihasilkan pada masa kekuasaan kolonial di Indonesia, umumnya oleh sejarawan atau administrator Belanda.

Baca Juga: Menilik aturan putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026: Indonesia masih punya peluang?

Ciri khasnya adalah Belanda-sentris atau Eropa-sentris, menempatkan pihak kolonial sebagai subjek utama dan agen perubahan (Mulyana & Darmiati, 2009).

Diksi Tone Positif dalam historiografi kolonial.
Narasi ini cenderung menggunakan tone positif untuk menggambarkan pihak kolonial sebagai:

Pembawa Peradaban dan Kemajuan: Mereka sering digambarkan sebagai entitas yang membawa modernitas, pendidikan, infrastruktur (jalan, irigasi), dan tatanan hukum yang 'lebih baik' ke 'masyarakat primitif' (Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch Indie).

Ini adalah bagian dari narasi misi peradaban (mission civilisatrice) yang melegitimasi penjajahan.

Penegak Ketertiban dan Kesejahteraan: Penindasan perlawanan pribumi seringkali disebut sebagai 'penumpasan pemberontakan' atau 'pemulihan ketertiban' demi stabilitas dan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga: Dibantai Jepang 0-6, Patrick Kluivert: Ini pelajaran penting untuk Timnas Indonesia

Tokoh-tokoh perlawanan seperti Diponegoro atau Imam Bonjol digambarkan sebagai 'pemberontak' atau 'pengacau' (Roboguru, 2023).

Pahlawan dan Administrator Ulung: Para pejabat kolonial, penjelajah, dan tokoh militer Eropa diangkat sebagai pahlawan yang gigih, berani, dan cerdas dalam menghadapi tantangan di Hindia.

Tone Negatif dalam Historiografi Kolonial:
Sebaliknya, historiografi ini menggunakan tone negatif untuk menggambarkan masyarakat pribumi:

Primitif dan Statis: Budaya lokal seringkali direpresentasikan sebagai statis, irasional, dan terbelakang, membutuhkan sentuhan peradaban Eropa untuk berkembang.

Ini melemahkan nilai-nilai dan pencapaian budaya pra-kolonial (Liputan6.com, 2025).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X