Elaborasi kritis berbasis literasi ilmu budaya menjadi krusial untuk membongkar bias-bias yang melekat.
1. Historiografi Kolonial: Tone positif untuk penjajah, tone negatif untuk pribumi
Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang dihasilkan pada masa kekuasaan kolonial di Indonesia, umumnya oleh sejarawan atau administrator Belanda.
Baca Juga: Menilik aturan putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026: Indonesia masih punya peluang?
Ciri khasnya adalah Belanda-sentris atau Eropa-sentris, menempatkan pihak kolonial sebagai subjek utama dan agen perubahan (Mulyana & Darmiati, 2009).
Diksi Tone Positif dalam historiografi kolonial.
Narasi ini cenderung menggunakan tone positif untuk menggambarkan pihak kolonial sebagai:
Pembawa Peradaban dan Kemajuan: Mereka sering digambarkan sebagai entitas yang membawa modernitas, pendidikan, infrastruktur (jalan, irigasi), dan tatanan hukum yang 'lebih baik' ke 'masyarakat primitif' (Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch Indie).
Ini adalah bagian dari narasi misi peradaban (mission civilisatrice) yang melegitimasi penjajahan.
Penegak Ketertiban dan Kesejahteraan: Penindasan perlawanan pribumi seringkali disebut sebagai 'penumpasan pemberontakan' atau 'pemulihan ketertiban' demi stabilitas dan kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Dibantai Jepang 0-6, Patrick Kluivert: Ini pelajaran penting untuk Timnas Indonesia
Tokoh-tokoh perlawanan seperti Diponegoro atau Imam Bonjol digambarkan sebagai 'pemberontak' atau 'pengacau' (Roboguru, 2023).
Pahlawan dan Administrator Ulung: Para pejabat kolonial, penjelajah, dan tokoh militer Eropa diangkat sebagai pahlawan yang gigih, berani, dan cerdas dalam menghadapi tantangan di Hindia.
Tone Negatif dalam Historiografi Kolonial:
Sebaliknya, historiografi ini menggunakan tone negatif untuk menggambarkan masyarakat pribumi:
Primitif dan Statis: Budaya lokal seringkali direpresentasikan sebagai statis, irasional, dan terbelakang, membutuhkan sentuhan peradaban Eropa untuk berkembang.
Ini melemahkan nilai-nilai dan pencapaian budaya pra-kolonial (Liputan6.com, 2025).
Artikel Terkait
Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA
Dualisme kepengurusan Yayasan WR Supratman, keluarga besar menolak pihak lain mengatasnamakan warisan sejarah
Sejarah peringatan Hari Buruh di Indonesia dan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah
Fakta sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Sempat dilarang di era orde baru
Fadli Zon tegaskan masyarakat tak perlu cemas soal penulisan sejarah nasional