Baca Juga: Pemerintah targetkan sampah tuntas 2029, Danantara siap investasi proyek waste to energy
Pasif dan Terpecah Belah: Peran dan agency bangsa Indonesia dalam sejarah seringkali diminimalkan, atau bahkan digambarkan sebagai tidak mampu mengurus diri sendiri.
Konflik internal antar kerajaan atau kelompok etnis seringkali ditekankan untuk menunjukkan bahwa persatuan hanya bisa dicapai di bawah tangan kolonial.
Fanatik dan Barbar: Perlawanan terhadap kolonialisme sering digambarkan sebagai tindakan irasional, fanatik, atau barbar, bukan sebagai bentuk perjuangan kemerdekaan.
Implikasi Budaya (Literasi Ilmu Budaya):
Penggunaan tone ini berdampak mendalam pada identitas budaya masyarakat terjajah.
Inferioritas Kultural: Narasi kolonial menanamkan rasa rendah diri kultural (inferiority complex) pada masyarakat pribumi, membuat mereka menginternalisasi stereotip negatif tentang diri sendiri (Kumparan.com, 2024).
Baca Juga: Polsek Subang amankan 80 botol miras dari warung di Jalan Kapten Hanafiah
Dekonstruksi Memori Kolektif: Kebudayaan lokal dianggap 'kuno' dan tradisi melemah.
Bahkan memori kolektif Belanda tentang kolonialisme cenderung 'romantisasi klise' dan 'sarat nostalgia' (Inside Indonesia, 2024), tanpa mengakui penderitaan yang ditimbulkan.
Legitimasi Kekuasaan: Melalui narasi ini, kolonialisme berusaha melegitimasi kekuasaannya dan membentuk pandangan bahwa penjajahan adalah sah dan bermanfaat (Kumparan.com, 2024).
Ini adalah bentuk hegemoni budaya di mana nilai-nilai dan pandangan dunia penjajah menjadi dominan (Gramsci, 1971).
2. Historiografi Indonesia-Sentris: Tone positif untuk pribumi, tone negatif untuk penjajah.
Munculnya historiografi Indonesia-sentris adalah sebuah revolusi dalam penulisan sejarah Indonesia.
Baca Juga: Forum BUMDES Subang bereaksi: Kasus Kalijati Timur harus disikapi bijak
Dipelopori oleh sejarawan nasionalis seperti Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, dan Kuntowijoyo, pendekatan ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah dari sudut pandang bangsa Indonesia sendiri (detikEdu, 2023).
Artikel Terkait
Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA
Dualisme kepengurusan Yayasan WR Supratman, keluarga besar menolak pihak lain mengatasnamakan warisan sejarah
Sejarah peringatan Hari Buruh di Indonesia dan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah
Fakta sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Sempat dilarang di era orde baru
Fadli Zon tegaskan masyarakat tak perlu cemas soal penulisan sejarah nasional