ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Baca Juga: Pemerintah targetkan sampah tuntas 2029, Danantara siap investasi proyek waste to energy

Pasif dan Terpecah Belah: Peran dan agency bangsa Indonesia dalam sejarah seringkali diminimalkan, atau bahkan digambarkan sebagai tidak mampu mengurus diri sendiri.

Konflik internal antar kerajaan atau kelompok etnis seringkali ditekankan untuk menunjukkan bahwa persatuan hanya bisa dicapai di bawah tangan kolonial.

Fanatik dan Barbar: Perlawanan terhadap kolonialisme sering digambarkan sebagai tindakan irasional, fanatik, atau barbar, bukan sebagai bentuk perjuangan kemerdekaan.

Implikasi Budaya (Literasi Ilmu Budaya):
Penggunaan tone ini berdampak mendalam pada identitas budaya masyarakat terjajah.

Inferioritas Kultural: Narasi kolonial menanamkan rasa rendah diri kultural (inferiority complex) pada masyarakat pribumi, membuat mereka menginternalisasi stereotip negatif tentang diri sendiri (Kumparan.com, 2024).

Baca Juga: Polsek Subang amankan 80 botol miras dari warung di Jalan Kapten Hanafiah

Dekonstruksi Memori Kolektif: Kebudayaan lokal dianggap 'kuno' dan tradisi melemah.

Bahkan memori kolektif Belanda tentang kolonialisme cenderung 'romantisasi klise' dan 'sarat nostalgia' (Inside Indonesia, 2024), tanpa mengakui penderitaan yang ditimbulkan.

Legitimasi Kekuasaan: Melalui narasi ini, kolonialisme berusaha melegitimasi kekuasaannya dan membentuk pandangan bahwa penjajahan adalah sah dan bermanfaat (Kumparan.com, 2024).

Ini adalah bentuk hegemoni budaya di mana nilai-nilai dan pandangan dunia penjajah menjadi dominan (Gramsci, 1971).

2. Historiografi Indonesia-Sentris: Tone positif untuk pribumi, tone negatif untuk penjajah.

Munculnya historiografi Indonesia-sentris adalah sebuah revolusi dalam penulisan sejarah Indonesia.

Baca Juga: Forum BUMDES Subang bereaksi: Kasus Kalijati Timur harus disikapi bijak

Dipelopori oleh sejarawan nasionalis seperti Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, dan Kuntowijoyo, pendekatan ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah dari sudut pandang bangsa Indonesia sendiri (detikEdu, 2023).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X