ESAI: Tone positif dan tone negatif dalam penulisan sejarah Indonesia: Elaborasi kritis berbasis epistemologi dan historiografi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Juni 2025 | 23:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior
Gus Nas Jogja (kanan) bersama Prof. Dr. Taufik Abdullah (kiri), Sejarawan Senior

Tone Positif dalam Historiografi Indonesia-Sentris:
Narasi ini secara konsisten menggunakan tone positif untuk:

Memuliakan Perjuangan dan Kepahlawanan: Tokoh-tokoh perlawanan pribumi seperti Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau Sisingamangaraja digambarkan sebagai pahlawan nasional yang gagah berani, patriotik, dan berjuang demi keadilan dan kemerdekaan.

Menyoroti Kebesaran Peradaban Pra-Kolonial: Sejarah kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram Islam diangkat untuk menunjukkan bahwa Nusantara memiliki peradaban luhur jauh sebelum kedatangan Eropa.

Baca Juga: Kasus Covid-19 naik, IFG ajak warga perkuat perlindungan diri lewat asuransi kesehatan

Membangun Identitas Nasional yang Kuat: Sejarah digunakan sebagai alat untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, mempersatukan berbagai suku dan agama dalam satu narasi perjuangan kolektif.

Tone Negatif dalam Historiografi Indonesia-Sentris: Sebaliknya, tone negatif diterapkan pada pihak kolonial:

Penjajah sebagai Penindas dan Perusak: Bangsa Barat digambarkan sebagai penindas, eksploitator sumber daya alam, dan perusak tatanan sosial serta budaya lokal.

Imperialisme sebagai Kejahatan: Tindakan kolonialisme dan imperialisme diletakkan dalam kerangka kejahatan kemanusiaan, yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Implikasi Budaya (Literasi Ilmu Budaya):
Penggunaan tone ini memiliki implikasi budaya yang signifikan:

Baca Juga: Raja Galuh Pakuan perkuat diplomasi budaya Indonesia-Tiongkok lewat Forum Telling China Story

Pembentukan Kesadaran Nasional: Historiografi Indonesia-sentris berfungsi krusial dalam membentuk kesadaran kolektif dan identitas nasional pasca-kemerdekaan (Anderson, 1991).
Revitalisasi Martabat Budaya: Dengan

menonjolkan kebesaran masa lalu dan perlawanan heroik, narasi ini berupaya mengembalikan martabat budaya bangsa yang sempat terkikis oleh narasi kolonial.

Risiko Homogenisasi: Namun, di balik tujuannya yang mulia, historiografi Indonesia-sentris juga memiliki potensi kelemahan.

Dalam usahanya untuk menyatukan, terkadang ada kecenderungan untuk melakukan homogenisasi pengalaman, mengabaikan kerumitan internal atau perbedaan pandangan di antara masyarakat pribumi itu sendiri (sejarah.fkip.uns.ac.id, 2025).

Ini bisa mengarah pada 'nasionalisme berlebihan' atau 'rasial' jika tidak kritis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X