Tone Positif dalam Historiografi Indonesia-Sentris:
Narasi ini secara konsisten menggunakan tone positif untuk:
Memuliakan Perjuangan dan Kepahlawanan: Tokoh-tokoh perlawanan pribumi seperti Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau Sisingamangaraja digambarkan sebagai pahlawan nasional yang gagah berani, patriotik, dan berjuang demi keadilan dan kemerdekaan.
Menyoroti Kebesaran Peradaban Pra-Kolonial: Sejarah kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram Islam diangkat untuk menunjukkan bahwa Nusantara memiliki peradaban luhur jauh sebelum kedatangan Eropa.
Baca Juga: Kasus Covid-19 naik, IFG ajak warga perkuat perlindungan diri lewat asuransi kesehatan
Membangun Identitas Nasional yang Kuat: Sejarah digunakan sebagai alat untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, mempersatukan berbagai suku dan agama dalam satu narasi perjuangan kolektif.
Tone Negatif dalam Historiografi Indonesia-Sentris: Sebaliknya, tone negatif diterapkan pada pihak kolonial:
Penjajah sebagai Penindas dan Perusak: Bangsa Barat digambarkan sebagai penindas, eksploitator sumber daya alam, dan perusak tatanan sosial serta budaya lokal.
Imperialisme sebagai Kejahatan: Tindakan kolonialisme dan imperialisme diletakkan dalam kerangka kejahatan kemanusiaan, yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, dan ketidakadilan.
Implikasi Budaya (Literasi Ilmu Budaya):
Penggunaan tone ini memiliki implikasi budaya yang signifikan:
Baca Juga: Raja Galuh Pakuan perkuat diplomasi budaya Indonesia-Tiongkok lewat Forum Telling China Story
Pembentukan Kesadaran Nasional: Historiografi Indonesia-sentris berfungsi krusial dalam membentuk kesadaran kolektif dan identitas nasional pasca-kemerdekaan (Anderson, 1991).
Revitalisasi Martabat Budaya: Dengan
menonjolkan kebesaran masa lalu dan perlawanan heroik, narasi ini berupaya mengembalikan martabat budaya bangsa yang sempat terkikis oleh narasi kolonial.
Risiko Homogenisasi: Namun, di balik tujuannya yang mulia, historiografi Indonesia-sentris juga memiliki potensi kelemahan.
Dalam usahanya untuk menyatukan, terkadang ada kecenderungan untuk melakukan homogenisasi pengalaman, mengabaikan kerumitan internal atau perbedaan pandangan di antara masyarakat pribumi itu sendiri (sejarah.fkip.uns.ac.id, 2025).
Ini bisa mengarah pada 'nasionalisme berlebihan' atau 'rasial' jika tidak kritis.
Artikel Terkait
Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA
Dualisme kepengurusan Yayasan WR Supratman, keluarga besar menolak pihak lain mengatasnamakan warisan sejarah
Sejarah peringatan Hari Buruh di Indonesia dan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah
Fakta sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni: Sempat dilarang di era orde baru
Fadli Zon tegaskan masyarakat tak perlu cemas soal penulisan sejarah nasional