ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB
Muhammad Rabih, Pemerhati Sosial
Muhammad Rabih, Pemerhati Sosial

Jangankan dibawa keluar kantor, terkadang pergi ke kantin sendirian pun merupakan sesuatu yang mereka butuhkan.

Bukan karena mereka tidak menyukai rekan kerjanya, tetapi karena manusia sesekali membutuhkan jarak dari lingkungan yang setiap hari menuntutnya untuk bekerja, berkomunikasi, berkoordinasi, dan memenuhi berbagai target.

Tidak selalu demikian, tentu saja. Tetapi terkadang, mengambil jarak adalah cara manusia menjaga kewarasannya di tengah tuntutan kehidupan.

Baca Juga: Beredar video kepanikan pekerja di atas gedung kawasan Menteng yang terbakar, ternyata begini kronologinya

Saya melihatnya sebagai salah satu cara manusia bertahan dalam sebuah lingkungan kerja, agar pekerjaan tidak berubah menjadi seluruh kehidupan.

Saya kemudian memaknai kemerdekaan dari sudut yang lebih sederhana.

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Ia juga tentang terbebasnya manusia dari belenggu waktu dan tenaga yang membatasi mereka untuk bersama orang-orang yang mereka cintai.

Dahulu, waktu dan tenaga manusia dirampas melalui perbudakan, kerja paksa, dan berbagai bentuk penindasan.

Baca Juga: Jalur Malang-Lumajang ditutup imbas kebakaran Gunung Bromo, ini akses alternatif yang masih dibuka

Hari ini, seorang pekerja secara sadar menukar waktu dan tenaganya dengan upah. Ia memberikan lima atau enam hari dalam seminggu kepada pekerjaannya, sementara ada rumah yang menunggu kepulangannya.

Maka pada hari kemerdekaan, jadilah merdeka.

Berhentilah sejenak dari meja kerja. Tinggalkan seragam. Matikan komputer. Tidak perlu lomba. Tidak perlu pidato. Tidak perlu kewajiban untuk terlihat kompak.

Pulanglah.

Pulang kepada mereka yang selama ini mungkin hanya mendapatkan sisa waktu setelah pekerjaan selesai.

Baca Juga: Cari potongan kaki korban mutilasi di Kali Licin Depok, polisi kerahkan anjing pelacak K9

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X