Sastrawan memahat teks hingga ia bernyanyi; budayawan memahat kebiasaan hingga ia terbaca. Tetapi perbedaan ini hanya berlaku di permukaan. Dalam kenyataannya, lintasan kerja mereka sering kali saling beririsan, bahkan tumpang tindih.
Pertanyaan yang terus menggema di kepala saya, apakah sastra bagian dari budaya, atau budaya bagian dari sastra?
Pertanyaan ini terdengar seperti permainan cermin yang saling memantulkan bayangan.
Jika saya menaruh sastra di dalam budaya, saya menempatkannya sebagai salah satu ekspresi manusia dalam jalinan besar praktik sosial, berdampingan dengan musik, tarian, kuliner, ritual, dan seni rupa.
Baca Juga: Nusron Wahid: Penetapan tanah terlantar perlu proses 587 hari, tidak bisa diambil serta merta
Dalam kerangka ini, sastra menjadi arsip emosi dan pikiran yang lahir dari konteks kultural tertentu.
Sebuah puisi Chairil Anwar, misalnya, bukan hanya kumpulan kata-kata puitis, melainkan dokumen emosional dari zaman perang, dari gelombang modernisme Indonesia yang sedang mencari suara baru.
Tetapi jika saya membaliknya, menempatkan budaya di dalam sastra, saya melihat teks sastra sebagai semesta otonom, sebuah mikro-kosmos yang punya aturan main, sejarah, dan nilai internalnya sendiri.
Dalam novel Pramoedya Ananta Toer, misalnya, kita tidak hanya membaca cerita fiksi, kita masuk ke dunia yang, meskipun lahir dari sejarah Indonesia, berdiri sebagai sebuah budaya miniatur dengan hukum dan memorinya sendiri.
Baca Juga: Nadiem Makarim diperiksa KPK terkait proyek Google Cloud Kemendikbudristek
Dua cara pandang ini tampaknya bertentangan, tapi justru keduanya bisa benar. Sastra adalah bagian dari budaya, dan budaya adalah bagian dari sastra.
Mereka saling mengandung, saling menyelinap, saling menyamar. Budaya memberi sastra tanah untuk tumbuh, bahasa untuk digunakan, masalah untuk dipecahkan.
Sastra memberi budaya cermin untuk melihat dirinya sendiri, kadang dengan jelas, kadang dengan bias yang disengaja.
Sering kali, sastrawan menjadi budayawan secara tidak sengaja. Seorang penyair yang menulis tentang pasar tradisional mungkin awalnya hanya berniat membuat puisi.
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Ada apa dengan karya sastra dan pembelajaran Bahasa Indonesia?