ESAI: Sastrawan, budayawan, dan pertautan yang tak pernah usai

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 14:30 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Sastrawan memahat teks hingga ia bernyanyi; budayawan memahat kebiasaan hingga ia terbaca. Tetapi perbedaan ini hanya berlaku di permukaan. Dalam kenyataannya, lintasan kerja mereka sering kali saling beririsan, bahkan tumpang tindih.

Pertanyaan yang terus menggema di kepala saya, apakah sastra bagian dari budaya, atau budaya bagian dari sastra?

Pertanyaan ini terdengar seperti permainan cermin yang saling memantulkan bayangan.

Jika saya menaruh sastra di dalam budaya, saya menempatkannya sebagai salah satu ekspresi manusia dalam jalinan besar praktik sosial, berdampingan dengan musik, tarian, kuliner, ritual, dan seni rupa.

Baca Juga: Nusron Wahid: Penetapan tanah terlantar perlu proses 587 hari, tidak bisa diambil serta merta

Dalam kerangka ini, sastra menjadi arsip emosi dan pikiran yang lahir dari konteks kultural tertentu.

Sebuah puisi Chairil Anwar, misalnya, bukan hanya kumpulan kata-kata puitis, melainkan dokumen emosional dari zaman perang, dari gelombang modernisme Indonesia yang sedang mencari suara baru.

Tetapi jika saya membaliknya, menempatkan budaya di dalam sastra, saya melihat teks sastra sebagai semesta otonom, sebuah mikro-kosmos yang punya aturan main, sejarah, dan nilai internalnya sendiri.

Dalam novel Pramoedya Ananta Toer, misalnya, kita tidak hanya membaca cerita fiksi, kita masuk ke dunia yang, meskipun lahir dari sejarah Indonesia, berdiri sebagai sebuah budaya miniatur dengan hukum dan memorinya sendiri.

Baca Juga: Nadiem Makarim diperiksa KPK terkait proyek Google Cloud Kemendikbudristek

Dua cara pandang ini tampaknya bertentangan, tapi justru keduanya bisa benar. Sastra adalah bagian dari budaya, dan budaya adalah bagian dari sastra.

Mereka saling mengandung, saling menyelinap, saling menyamar. Budaya memberi sastra tanah untuk tumbuh, bahasa untuk digunakan, masalah untuk dipecahkan.

Sastra memberi budaya cermin untuk melihat dirinya sendiri, kadang dengan jelas, kadang dengan bias yang disengaja.

Sering kali, sastrawan menjadi budayawan secara tidak sengaja. Seorang penyair yang menulis tentang pasar tradisional mungkin awalnya hanya berniat membuat puisi.

Baca Juga: Bernama Agus atau lahir di bulan Agustus? Ini 4 tempat wisata yang gratiskan tiket masuk selama Agustus 2025

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X