Membuat haiku Betawi itu seperti mencoba menyulap kerak telor jadi sashimi: tak hanya nekat, tapi juga harus punya nyali campur selera absurd yang matang.
Tapi begitulah kira-kira motivasi awal saya ketika menulis Batavian Haiku #1.
Sebuah percobaan—atau kalau mau agak lebay, sebuah pergulatan eksistensial—antara bahasa lokal dan struktur puisi paling hemat di dunia.
Mari kita tilik kembali tiga bait haiku tersebut:
Batavian Haiku #1
Tengari bolong
nimpe mangge tetangge
nibla—nyungsep.
Wayah menggerip
bengkek duren dewekan
...kemelekeran.
Molor di pangkeng
"minum di gelas kecil"
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
Penyair Wiji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan
7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
10 puisi pilihan karya Remy Sylado, lihat di sini!
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia