GENMILENIAL.ID - Sastra bukan sekadar pelengkap pelajaran Bahasa Indonesia. Di balik setiap bait puisi, alur cerita rakyat, hingga syair dan gurindam, tersimpan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang sejatinya menjadi cermin karakter anak negeri.
Namun di ruang-ruang kelas, terutama di tingkat SMP, posisi karya sastra kini seperti kehilangan daya pikatnya.
Hal inilah yang disoroti Ucu, S.S., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang.
Ia menilai pentingnya menyuntikkan ruh sastra dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai upaya membangun karakter peserta didik, khususnya di masa remaja awal yang dikenal penuh ambivalensi, antara ingin menonjol dan ingin menyendiri, antara ingin tahu dan mudah terpengaruh.
Baca Juga: Istana tanggapi keraguan ekonom soal pertumbuhan 5,12 persen: Pemerintah selalu jujur soal data
“Anak seusia SMP sangat haus akan informasi. Mereka cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Di sinilah sastra bisa menjadi jendela nilai tentang mana yang baik dan buruk, tentang konsekuensi dari pilihan hidup,” ujar Ucu pada GenMilenial.id, Kamis 7 Agustus 2025.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berakhlak mulia, berkepribadian, cerdas, dan mandiri.
Menurut Ucu, sastra sejatinya memiliki kekuatan besar untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, karena di dalamnya tergambar etika, keadaban, serta dinamika hidup masyarakat.
Namun, sayangnya, keberadaan karya sastra di ruang kelas kerap kurang berdampak signifikan. Ada jarak yang terasa antara siswa dan teks sastra.
Baca Juga: Fenomena bendera One Piece di Hari Kemerdekaan, simbol kritik atau degradasi nasionalisme?
Bahasa yang dianggap sulit, cerita yang terasa jauh dari kehidupan mereka, hingga budaya digital yang lebih menyenangkan dari halaman-halaman buku.
Sastra: Dari teks ke pengalaman hidup
“Pembelajaran yang efektif adalah yang dekat dengan realitas mereka,” ujar Ucu.
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern