ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 10 Mei 2025 | 15:35 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

“Tiap-tiap perjuangan harus memiliki seni dan keindahannya sendiri. Tanpa itu, revolusi akan kehilangan jiwa.”

—Sutan Syahrir

Di masa revolusi kemerdekaan, politik bukan hanya urusan parlemen, diplomasi, atau senjata. Ia adalah kerja-kerja sunyi yang terajut dalam puisi, cerita pendek, pamflet, dan surat kabar.

Di balik pekikan 'Merdeka!' yang bergema di medan laga, ada bait-bait puisi yang bergetar dalam dada rakyat, menghidupkan harapan, membentuk imajinasi tentang bangsa, dan membangkitkan kesadaran akan hak untuk hidup bermartabat.

Baca Juga: Jalin keakraban lewat olahraga, PT Dahana dan GreenTeams gelar laga voli persahabatan

Sastra menjadi jantung dari peradaban yang tengah dirintis. Chairil Anwar, misalnya, bukan sekadar penyair individualis.

Puisinya, seperti 'Aku' atau 'Krawang-Bekasi', adalah cermin dari bangsa yang bangkit dan siap mempertaruhkan segalanya. Kata-kata menjadi senjata sekeras peluru.

Di tangan para penyair dan sastrawan revolusi, bahasa tak hanya indah, tapi juga tajam, tegas, dan menggugah.

"Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak 'Merdeka' dan angkat senjata lagi,
tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan berdegap hati?"
—Chairil Anwar

Baca Juga: Turun langsung ke desa, Kang Rey pastikan jalan rusak tak lagi jadi masalah warga

Sementara itu, para pemikir politik seperti Soekarno, Syahrir, Hatta, dan H. Agus Salim memahami bahwa membangun bangsa tak cukup dengan retorika kekuasaan.

Mereka menulis, berdebat, membangun diskursus. Soekarno menulis 'Indonesia Menggugat', Syahrir dengan 'Perjuangan Kita', Hatta dengan esainya tentang koperasi dan ekonomi rakyat.

Mereka adalah politisi, tapi juga penulis dan sastrawan dalam cara berpikir. Mereka memahami bahwa peradaban dimulai dari ide, dan ide hidup lewat bahasa.

"Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan."
—Sutan Syahrir

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X