Sastrawan membawa metafora; budayawan membawa data. Obrolan mereka saling mengisi: metafora mulai bekerja seperti fakta, fakta mulai bergerak seperti metafora.
Meja itu menjadi ruang di mana dua pendekatan yang tampak berbeda justru saling menajamkan.
Mungkin di sanalah kita harus meletakkan posisi sastra dan budaya, bukan di dalam atau di luar satu sama lain, tetapi di meja yang sama, sebagai percakapan yang tak pernah selesai.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan 'siapa memasukkan siapa' mungkin tidak sepenting kesadaran bahwa keduanya terhubung dalam sebuah jaringan yang tak terpisahkan.
Dan jaringan itu adalah kita, para pembaca, penulis, penonton, pelaku, dan saksi yang terus menghidupkan kata sekaligus merawat kehidupan.
Ikhsan Risfandi, penulis puisi kelahiran Jakarta 1985, dikenal dengan nama IRZI dan telah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024
Artikel Terkait
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Ada apa dengan karya sastra dan pembelajaran Bahasa Indonesia?